ASY'ARIYYAH AW MATURUDIYYAH DALAM I'TIQOD | SALAH SATU DARIPADA EMPAT MADZHAB DALAM FIQIH | BERTARIQAT DALAM TASAWUF

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Alhamdulillah dapat bershilaturrahim hadir memenuhi undangan Acara Haul Habib Munzir Al-Musawa."

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Alhamdulillah dapat bershilaturrahim hadir memenuhi undangan Acara Haul Habib Munzir Al-Musawa."

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Banyak kebaikan Habib Munzir untuk umat dan persatuan umat. Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan beliau dan menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW"

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Banyak kebaikan Habib Munzir untuk umat dan persatuan umat. Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan beliau dan menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW"

muktamar tasawuf sedunia di Chechnya.

Habib Sholeh Aljufri bersama guru mulia Alhabib Umar bin Hafidz, Mufti Mesir Syiekh Shauki dan ulama2 dari Beirut, Syiria dll

Habib Ali alJufri dan Guru Beliu, Syeikh Maliki

Habib Ali al-Jufriy: "Ketika aku mendengar orang berbicara atas nama Islam dengan bahasa yang kasar dan caci-maki, aku bersyukur kepada Allah tidak memahami Islam lewat lisan mereka."

25yyTB_kiZg
Showing posts with label adab. Show all posts
Showing posts with label adab. Show all posts

Sunday, October 11, 2015

Kemuliaan Wanita Tarim Hadramaut


Saudaraku yang kucintai, tahukah kita, kenapa wanita kota Tarim layak dibahas di sini? Adakah keistimewaan dari para wanita bumi para wali tersebut? Saudaraku, wanita di kota Tarim Hadlramaut sangat jauh berbeda dengan sebagian besar wanita-wanita muslimah di dunia, bahkan di wilayah lain di kota-kota yang juga di Hadlramaut pun sudah banyak yang pudar ketegasan syari’ahnya. Wanita-wanita Tarim itu terbiasa dari sejak kecil dibesarkan di lingkungan ulama’, obrolan siang malam mereka adalah obrolan majelis ilmu, al Qur’an, adab, akhlak, tasawwuf. 

Demikianlah mereka dibesarkan, mereka dibesarkan tidak kenal musik, tidak kenal kebiadaban, tidak kenal wajah orang fasiq, bahkan para wanitanya itu tidak pernah melihat lelaki selain ayahnya, saudara lelakinya, dan pamannya.

Saat seorang wanita Tarim menikah, ketika ditanya, apa sih kesannya saat awal berjumpa? Ia menjawab, “saya bingung, seumur hidup saya belum pernah melihat lelaki selain kakak kandung saya, lalu ini ada lelaki asing duduk di kamar saya”.

Demikianlah keadaan mereka, mereka tak pernah menyusahkan suaminya, demikian pula suami pada istrinya. Bila susu habis misalnya, atau beras, atau apa saja yang perlu dibeli, mereka tak berani bicara pada suaminya, karena takut suaminya sedang tidak ada uang, atau sedang sibuk, maka mereka taruhlah bungkus-bungkus kosong itu kira-kira di tempat yang sekiranya menyolok dan terlihat oleh suaminya.

Demikian pula suami, seluruh hajat pasar, sayur dan lainnya, suami yg belanja, istrinya boleh saja keluar ke pasar kaum wanita, misalnya belanja baju, atau barang barang khusus wanita, namun jika urusannya adalah dapur, sayur, beras, dll, itu adalah tugas suami atau pembantu.

Istri selalu membuat kamar tidur wangi, bila suaminya pulang maka pastilah kamar sudah ditata rapih dan sangat wangi, pakaian suami sudah pasti wangi, kamar mandi wangi, semua ditata serapi mungkin.

Istri tak pernah mengangkat suara pada suami, tak pernah marah, tak pernah cemberut, bila mereka kesal mereka menangis dan mengadu pada suaminya dengan lirih, itulah marah mereka.

Demikian pula suami, tak pernah marah pada istri, apalagi mencaci. Bila sudah sangat kesal atas sesuatu, suami tulis surat pada istri lalu pergi atau tidur, nanti istri menjawab pula, lalu suami menjawab pula, akhirnya keduanya tertawa bersama.

Indahnya kota Tarim dan indah pula akhlak penghuninya. Tiada kita jumpai, para wanitanya keluar rumah setiap saat di jalanan kota. Bila mereka ada hajat yang sangat penting, maka ada waktu khusus yang telah dimaklumkan oleh penduduk Tarim bagi para wanitanya, yakni selepas maghrib hingga selesainya jama’ah sholat Isya’. Kenapa? Karena disaat itulah para lelaki kota Tarim sedang berada di Masjid untuk berjama’ah Maghrib.

Masih banyak lagi keunikan dan seni budi pekerti Nabi Muhammad SAW dalam rumah tangga nabawiy yg sulit kita temukan di masa kini, seperti yang dipraktekkan penduduk Tarim.

Saudaraku, bukankah segala kebaikan dan suri tauladan dari Nabi SAW, adalah untuk ditiru dan di dakwahkan? Semoga kita bisa meneladani sifat-sifat Nabawiy seperti halnya yang telah dilakukan oleh para penduduk Tarim, aamiin.

Sumber: website Pondok Habib

Thursday, September 24, 2015

Menantang Ulama : "Kami laki-laki, Mereka juga laki-laki"

"Nahnu Rijaal wa Hum Rijaal" jika diterjemahkan menjadi "Kami laki-laki, dan Mereka juga laki-laki"

Kalimat ini banyak sekali kita dengar di kalangan penuntut ilmu syari'ah baik yang baru belajar atau juga yang memang sedang fokus belajar sebagai mahasiswa syari'ah. Sebagai mahasiswa dan pelajar bukan ulama!

Sayangnya kalimat ini menjadi sangat buruk nilainya, karena mereka yang belum banyak ilmu, mereka yang asih bersetatus pelajar, mereka yang hanya bertemu materi agama beberapa kali dalam sepekan justru sudah berani mengatakan demikian untuk menantang pendapat ualam-ulama salaf dari kalangan imam dan mujtahid fiqih yang masyhur.

Ketika mereka punya pendapat (entah dari mana dapatnya) berbeda dengan pendapat yang sudah dikenal oleh para ulama madzhab fiqih yang masyhur, dengan pongah mereka mengatakan: "Nahnu Rijaal wa Hum Rijaal" ("Kami laki-laki, Mereka juga laki-laki"). Bisa diartikan bahwa mereka berkata: "Mereka punya ilmu, kami juga punya. Mereka boleh berpendapat, kami juga".

Punya Imam Abu Hanifah
Padahal sejatinya, perkataan "Nahnu Rijaal wa Hum Rijaal" ("Kami laki-laki, Mereka juga laki-laki") adalah perkataannya Imam Abu Hanifah al-Nu'man, yang beliau katakan kepada tabi'in yaitu mereka yang hidup sezaman dengan Abu Hanifah. Kalimat lengkapnya seperti ini:

مَا جَاءَنَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَبِلْنَاهُ عَلَى الرَّأْسِ وَالْعَيْنَيْنِ وَمَا جَاءَنَا عَنْ أَصْحَابِهِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ اخْتَرْنَا مِنْهُ وَلَمْ نَخْرُجْ عَنْ قَوْلِهِمْ وَمَا جَاءَنَا عَنِ التَّابِعِينَ فَهُمْ رِجَالٌ وَنَحْنُ رِجَالٌ

"Apa yang datang dari Rasulullah saw maka pasti kami terima tanpa menolak, dan apa yang datang dari para sahabat, maka kami memilihnya. Dan apa yang dari datang dari Tabi'in, maka mereka laki-laki dan kami laki-laki!" 

Ini disebutkan oleh Imam Ibnu Abdil Barr (463 H) dalam kitabnya "Al-Intiqo' fi Fadhoil Al-Tsalastah Al-Aimmah Al-Fuqoha'" hal, 144. Sebagaimana juga disebutkan oleh Imam Al-Zahabi (748 H) dalam kitabnya yang masyhur "Siyar A'laam Al-Nubala". Dan juga disebutkan oleh ulama-ulama lain dalam kitab-kitab tarikh (sejarah) mereka. 

Maksudnya jelas, Imam Abu Hanifah yang lahir tahun 80 Hijriyyah, dan wafat tahun 150 Hijriyah ini mengatakan kepada para tabi'in karena memang beliau hidup di masa tabi'in, masa terbaik umat Islam setelah masa sahabat Ridhwanullah 'alaihim. 

Beliau mengatakan kalau memang itu datang dari Nabi saw dengan sanad yang kuat, maka tidak ada alasan kami untuk menolak, akan tetapi kalau itu datang dari sahabat, kita akan memilih pendapat dari sahabat mana yang kami terima tanpa menolak sahabat yang lain. Dan jika itu datang dari tabi'in yang sezaman dengan kami, ya kami punya ilmu mereka pun demikian. 

Imam Abu Hanifah pantas saja mengatakan demikian, karena memang beliau seorang ilmuan besar, seorang mujtahid mutlak yang tidak perlu mengekor kepada siapapun. Beliau seorang ulama yang tidak ada meragukan kapasitasnya, dan semua orang sejagad ini menerima ijtihadnya dan seluruh pendapat madzhabnya, bahkan masih diamalkan sampai sekarang. 

Dan yang perlu dikehui bahwa 3 imam Madzhab setelahnya; Imam Malik, Imam Syafi'I, Imam Ahmad bin Hanbal, mereka semua pernah mengeyam pendidikan fiqih yang diajarkan oleh Imam Abu Hanifah.

"Nahnu Rijaal wa Hum Rijaal"
Lalu tiba-tiba ada segerombolan anak-anak yang baru saja keluar dari majlis ta'lim yang juga baru dimasukinya majlis ta'lim itu 2 jam sebelumnya, dan langsung mengeluarkan sebuah hukum masalah yang menyelisih pendapat para Imam 4 Madzhab, lalu dengan pongah mereka berkata: "Nahnu Rijaal wa Hum Rijaal" ("Kami laki, mereka juga lelaki!")lalu siapa mereka?!!!

Bahkan mereka juga menyelisih pendapat Imam yang qoul-nya mereka pakai, yaitu Imam Abu Hanifah tersebut, tanpa mau menerima adanya perbedaan pendapat. Dan mengatakan bahwa:
"Yang Benar itu begini, sebagaimana yang kami lakukan, ini yang diajarkan oleh Nabi. Jangan terlalu mengikuti pendapat Imam Madzhab, mereka manusia, bisa salah. Kita itu harus mengikuti Nabi dan para sahabat!".
Apakah sebegitu bodohnya para Imam Madzhab sehingga kebenaran tidak bisa mereka temukan dan baru bisa ditemukan pada anak-anak bau kencur yang baru belajar kamarin sore? Dengan dalih mengikuti Al-Quran dan Sunnah mereka mencela pendapat Imam Madzhab yang menurut pandangan mereka yang masih amat sangat minim ilmu itu menyelisih sunnah.

Lalu memangnya para Imam itu menyelisih dan memusuhi Al-Quran dan sunnah? Bukankah mereka punggawa-punggawa dakwah yang dengan kegigihannya menjaga pemahaman Al-Quran dan Sunnah?

Kalau dikatakan mereka para 4 Imam madzhab manusia yang memang mungkin saja bisa salah, lalu apalagi mereka yang hanya belajar syariah di hari libur; sabtu dan ahad? (karena hari normal mereka bekerja dengan kegiatan masing-masing di kantor dan di toko-toko mereka yang sama sekali tidak pernah menyentuh kitab-kitab syariah, hanya hari libur kesempatan mereka belajar syariah)

Padahal para imam madzhab bukan hanya hari libur memegang dan meniliti hukum syariah, tapi ya itu memang bagian dari kehidupan mereka. Dan memang tugas mereka meneliti itu. Tidak ada satu haru pun mereka lewati kecuali mereka bergumul dengan dalil dan berijtihad mencari solusi sebuah hukum masalah. Bukan hanya sabtu ahad.

Dan sayangnya, keadaan menjadi lebih parah ketika kita mendapati bahwa mereka; anak-anak yang belajar baru kemarin sore ini bisa bersikap seperti ini karena ajaran guru-guru mereka di majlis sabtu dan ahab itu.
"ya ikhwah, Allah dan rasul tidak pernah menuntut kita untuk mengikuti pendapat-pendapat imam mazdhab atau siapapun. Kita hanya dituntut untuk mengikuti al-quran dan sunnah! Biarkan mereka berpendapat, yang penting kita tetap dalam manhaj salaf yang sesuai dengan al-quran dan sunnah!"begitu kiranya kata-kata yang keluar dari sang "ustadz" mereka. Dimana adab mereka terhadap ulama???
Apa mereka pikir para Imam itu tidak mengerti Al-Quran dan Sunnah padahal mereka, para imam hidup di zaman kecemerlangan dunia keilmuan Islam, sedangkan para anak-anak ini hidup dimana? 

Apakah mereka pikir bisa memahami Al-Quran dan sunnah dengan benar dan lurus tanpa adanya bantuan dari ulama-ulama seperti 4 Imam madzhab ini. Kalau bukan dari mereka, lewat jalur mana kita bisa mamahami Al-Quran dan Sunnah suci ini?

Dan lebih disayangkan lagi, anak-anak kemarin sore ini berani menyelisih pendapat para Imam bukan karena mereka mengerti dalil, bukan! Bukan juga karena mereka mengerti bagaimana cara ber­-Istidlal dan metode Istimbath hukum yang benar. Bukan karena itu semua, toh mereka mubtada' khobar pun tidak mengerti.

Semua karena didasari hawa nafsu dan pemahaman yang keliru tentang bagaimana seharusnya sebuah hukum itu bisa disimpulkan dari sebuah dalil yang rinci yang memang sejatinya itu ranah para ulama fiqih.

Seandainya mereka tahu dan mengerti, pastilah mereka tidak akan merasa dan berkampanye bahwa pendapat mereka yang paling mengikuti Al-Quran dan sunnah, dan pendapat yang lain salah. Orang yang paham syariah tidak akan berpendapat seperti ini. 

wallahu A'lam

oleh: Ahmad Zarkasih, Lc 

Friday, September 18, 2015

Dialog Habib Ali al-Jufri dengan Kurt Westergaard, Pelukis Karikatur Nabi Muhammad SAW




Habib Ali adalah sosok da`i muda yang energik, santun selalu tersenyum dan mengingatkan kita kepada Allah bila melihat wajahnya. Dakwahnya di fokuskan ke Negara-negara Eropa hingga Amerika, beliau salah satu murid dari guru mulia Al- Arif Billah Al- Allamah Habib Umar bin Hafidz.

Dengan izin Allah Ta`ala beliau terpilih untuk bertemu dengan Kurt Westergaard seorang yang membuat karikatur Nabi Muhammad SAW yang nyeleneh dan menyebar ke pelbagai penjuru dunia, membuat ummat islam marah. Kurt tampak gelisah, berbicarapun terlihat super hati-hati, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Habib Ali, tenang, khusu`, ramah, santun dan senantiasa tersenyum.

Sama sekali tidak terlihat kemarahan di wajahnya. Sampai-sampai Kurt terheran heran sambil bertanya:

“Mengapa anda menerima saya? padahal saya ini dicari-cari orang-orang Islam sedunia untuk di bunuh. Mereka menganggap saya menghina Rasulullah SAW karena membuat gambarnya. Tapi ketika saya bertemu anda. Anda tidak marah malah sebaliknya. Mengapa?”.

Habib Ali dengan lembut menjawab:
“Mengapa saya harus marah kepada anda? Apakah karena anda menggambar Rasulullah Saw dengan karikatur? Kalau anda menggambar seperti itu, saya menyadari bahwa anda tidak kenal dengan Rasulullah Saw. Anda tidak mengetahui figur Rasulullah Saw yang sebenarnya. Jadi wajar saja anda berbuat seperti itu. Seandainya anda bertemu Rasulullah Saw, saya yakin beliau pun tidak akan marah dengan apa yang anda gambarkan. Saya juga yakin, anda akan dikasihi dan disayangi oleh beliau Saw. Beliau (Shalallahu alaihi wasallam) itu mempunyai sifat kasih sayang kepada setiap umat manusia, kepada umatnya, bahkan kepada musuhnya, kepada siapa saja….karena beliau saw diberi tugas oleh Allah sebagai rahmat didunia ini, dan menyampaikan agama islam,agama yang baik untuk semua orang. Jika sudah mempelajari figur nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam secara obyektif, anda pasti akan mencintai beliau. Anda menggambarkan seperti itu karena anda tidak tahu siapa beliau”.

Kurt pun terperanjat dengan ucapan Habib Ali ini. Dia lantas memuji-muji Habib Ali dan merasa bangga karena telah bertemu dengannya. Habib Ali Al-jufri dikenal sebagai da`i yang santun banyak dari para cendikiawan non muslim dari negara- negara Eropa sampai Amerika masuk agama Islam.

Habib Ali menghimbau kepada umat islam agar menyikapi para pencela Islam dengan santun, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam Menurutnya sikap santun dan ramah serta penuh kasih itu akan membuka mata orang-orang non muslim bahkan berdampak positif bagi umat islam yang tinggal di negara-negara berpenduduk minoritas muslim.

Allahumma Shalli `ala Sayyidina Muhammad wa`ala alihi washahbihi wasallim

Salah Satu Sifat Dasar Iblis : “SAYA LEBIH BAIK DARINYA!”


Disarikan dari majelis ilmu yang disampaikan oleh Sayyidil Habib Ali Zainal ‘Abidin bin ‘Abdurrahman al-Jufri Yaman:

Salah satu sifat dasar Iblis adalah “Saya lebih baik darinya”.
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Qur’an Surat al-A’raf: 12).


Tapi sifat Nabi Muhammad Rasulullah SAW adalah:
  • senantiasa bertambah ketakutan kepada Allah Swt,
  • bertambah tawadhu’,
  • bertambah kasih sayang, dan juga
  • bertambah ramah terhadap sesama makhluk.

Apabila manusia itu bertambah kesholehannya, apakah dari jalan belajar (seperti membaca atau memahami masalah) atau beribadah (seperti mengerjakan shalat malam dan berpuasa), bukti kejujuran amalannya itu tidak hanya ada pada penampilannya tapi akan terlihat jelas pada akhlaknya serta pergaulannya. Dan bukti ketidakjujuran amalannya itu adalah tidak terlihat pada akhlaknya bahkan sebaliknya. Setiap kali dia banyak melakukan ibadah, setiap kali itu pulalah ia banyak kepura-puraannya, semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka.


Semakin dia berkomitmen dalam agama, semakin bertambah kerut wajahnya.
Semakin dia berkomitmen dalam agama, semakin membatasi dirinya dari beberapa kelompok manusia.
Semakin dia berkomitmen dalam agama, semakin menghina kelompok-kelompok masyarakat.
Semakin dia berkomitmen dalam agama, semakin kasar terhadap sesama keluarga terdekatnya yang kurang mentaati agama.

Darimana datangnya semua hal ini? Apakah seperti ini, sifat orang yang berkomitmen dalam beragama. Sebabnya tidak adanya hubungan antara ibadah yang dilakukannya dan ilmu yang diperolehnya dengan hakikat yang sebenarnya yakni hubungan hati dengan Allah Swt. Jadi kita memerlukan pergaulan dengan orang-orang shaleh agar kita dapat melihat kejujuran hati ini, agar dapat muhasabah diri ini dengan penuh kejujuran.

Contoh kasus 1:
Duhai orang-orang yang telah dimuliakan Allah dengan selalu pulang pergi ke masjid, apakah yang kamu dapat darinya? Pandangan macam apakah yang kamu lihat kepada mereka yang ada di luar masjid? Kamu akan keluar dari masjid setelah majelis ini usai. Kamu akan temukan di jalanan pemuda-pemuda dengan kelakuan yang buruk. Ada yang kelakukannya meninggikan suara mengganggu orang di sekelilingnya dan tak mau peduli dengan suara-suara yang menegurnya. Bagaimanakah kamu akan melihatnya? Hah?!

Setelah kamu keluar dari majelis pengajian ini,

Kamu mungkin terasa diri penuh dengan kesholehan. Kamu telah banyak menelaah kitab, melakukan shalat jamaah, kemudian kamu keluar dan mendapati mereka-mereka ini. (Dengan sinisnya, kamu berkata:) “Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”. “Aku berlindung kepada Allah, eh apa ini?”. Kamu melihat mereka dengan pandangan kehinaan. Cara ini bukannya cara berlindung dari maksiat. Bukan begini cara menjauhinya, bukanlah seperti itu caranya. Berbeda antara ilmu yang diajari oleh Nabi Muhammad Saw dengan ilmu yang diajari oleh iblis.

Atau kamu akan melihatnya dengan pandangan belas kasihan serta kasih sayang. Tadi baru saja kamu mendengarkan nasihat-nasihat ini, kemudian kamu berkata:

“Ya Allah sebagaimana Engkau telah dengarkan nasihat ini kepadaku serta memberi petunjuk kepadaku, maka dengarkanlah pula kepada mereka dan tunjukilah mereka”.

Apabila kamu melewati mereka, senyumlah kepada mereka dan ucapkan “Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh”. Kamu terus berjalan dengan tenang, berilah kesan di hati mereka agar mengikuti apa yang kamu lakukan itu. Beginilah cara berlindung dari maksiat, beginilah ilmu yang diajari oleh Nabi Muhammad Saw.

Contoh kasus 2:
Ada suatu kisah menyebutkan. Ada seorang penuntut ilmu sedang mengalami kebingungan dan keraguan, apakah akan masuk mengikuti majelis ini atau majelis yang itu. Dia melihat 2 kumpulan majelis pengajian ilmu yang berbeda. Kedua majelis sama-sama mengajarkan al-Qur’an dan al-Hadits. Dia bingung mau memilih dan mengikuti majelis yang mana. Lantas dia pergi kepada seorang yang sholeh untuk membuat pilihan baginya, lalu orang shaleh itu berkata: “Aku akan membawa kamu pergi menuju kedua majelis tersebut”.

Mereka kemudian masuk ke kumpulan majelis yang pertama dan berdiri. Orang shaleh ini sengaja berbuat demikian karena untuk mengetahui majelis mana yang harus dia ikuti. Mereka berdua berdiri di kumpulan majelis yang pertama dan ketika itu Sang Syaikh sedang mengajar. Di saat Syaikh itu melihat mereka berdua sedang berdiri, Syaikh berkata kepada mereka: “Duduk! Kenapa kamu berdiri?”. Orang shaleh ini menjawab: “Aku tidak ingin duduk di majelis kamu ini”. Syaikh itu bertanya: “Kenapa kamu tidak ingin duduk?”. Orang shaleh itu kembali menjawab: “Dalam hatiku ada rasa tak puas hati dengan kamu”. Syaikh berkata: “Dan aku juga sangat-sangat tak puas hati dengan kamu, keluarlah syaitan, dan jangan kamu merusak majelis ini..!”. Sang Pemuda berkata: “Ayo kita keluar dari sini sebelum kena pukul”.

Kemudian mereka berdua pergi ke kumpulan selanjutnya, majelis yang kedua, juga melakukan hal yang sama dalam keadaan berdiri. Ketika dalam majelis itu Syaikh melihat mereka yang berdiri dan berkata: “Mengapa kamu berdua tidak duduk?”. Nampak perbedaan dengan Syaikh yang tadi yang berkata “Duduk..!” dengan “Mengapa kamu berdua tidak duduk?”. Orang shaleh itu menjawab: “Aku tidak ingin duduk dalam majelismu ini”. Sang Syaikh kembali berkata: “Kenapa?’. Orang shaleh itu berkata: “Aku ada rasa tidak puas hati dengan kamu”. Lantas Syaikh itu menutup wajahnya lalu menangis dan berkata: “Innalillah wa inna ilaihi roji’un, astaghfirullohi wa atubu ilaih, mungkin Allah telah membukan kepada kamu aibku yang telah disembunyikan”. Dan Syaikh itu terus menangis sambil berkata: “Astaghfirullohi wa atubu ilaih… Astaghfirullohi wa atubu ilaih… Astaghfirullohi wa atubu ilaih… ”, (memohon ampunan Allah dan bertaubat kepadaNya). Dan orang shaleh yang berdiri itu menoleh kepada si pemuda yang bertanya kepadanya tadi: “Hai pemuda, majelis manakah yang akan kamu pilih? Di sini atau di sana?”.

Kriteria sifat orang yang shaleh itu akan tampak jelas pada akhlaknya yang shaleh pula. Jika kamu merasa harus membuat suatu pilihan. Dikatakan orang ini dalam kebenaran dan orang lain pula kata mereka dalam kebenaran, caranya lihatlah kepada akhlak mereka.


Dimana ada tanda akhlak yang mulia, tandanya di situ ada agama. 
Dimana ada tanda akhlak yang mulia, tanda adanya juga di situ ilmu.
Sekiranya di situ tidak ada akhlak yang mulia, maka di situ juga tidak ada agama dan ilmu.

Tidak mungkin beragama itu tanpa ada akhlak yang mulia.
Tidak mungkin ciri sifat kesholehan itu dengan tidak disertai akhlak yang mulia.
Tidak mungkin adanya ilmu itu, dengan tanpa adanya akhlak yang mulia.

Maka setiap yang berilmu dan yang beragama, jika tidak terdzahir (tampak) padanya akhlak yang mulia, maka di situ ada kecacatan pada orang yang berilmu dan yang beragama.

Inilah kriterianya, janganlah kita berfikir melihat kepada orang lain tetapi pandanglah kepada diri kita sendiri, untuk memperbaiki diri diantara kita dengan Allah Swt. Jadi, terjadinya kecacatan pada orang yang berilmu dan beragama mungkin karena terpisah darinya kefahaman makna kesholehan tentang akhlak pergaulan atau pun dengan sebab yang lain. Dengan sebab terpisahnya dia dari kelompok masyarakat yang memuliakan orang yang beragama dari yang lainnya, dan yang terakhir yaitu melihat kesan-kesan kesholehan pada diri kamu, yakni melihat terhadap hasil kesholehan yang lahir dalam diri kamu dan bagaimana kamu maju terhadapnya. Inilah kriteria sifat kesholehan, perhatikan dalam diri kamu, jangan kamu menilai dirimu ada sesuatu yang lebih baik dari orang lain.

Agama kita ini adalah agama yang beradab dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mencerminkan akhlak yang mulia terhadap makhlukNya. Jadi untuk itu kita muhasabah diri kita terhadap kesholehan yang kita peroleh ini, sebab jika kita muhasabah terhadap kesholehan diri ini, maka kita merasa membutuhkan kepada akhlak yang mulia. Kita memohon kepada Allah semoga kita mendapat kesempurnaan Taufiq. Ya Allah yang Maha Memberi Petunjuk kepada kebaikan dan membantu hambaNya ke arah kebaikan, berilah petunjuk kebaikan kepada kami dan bantu kami ke arahnya. Subhanallohi walhamdulillahi wa la ilaha illalloh wallohu akbar, berilah petunjuk kepada kami terhadap nasihat ini untuk senantiasa kembali kepadaMu, dan turunkanlah kepada kami pemberianMu serta lindungilah ahli kalimah la ilaha illalloh baik di Timur maupun di Barat dan hilangkanlah kegelisahan ahli la ilaha illalloh baik di Timur maupun di Barat. Amin…

Thursday, September 3, 2015

Dua Kaidah untuk Memperbaiki Akhlak

Nasihat al Habib Muhammad bin Abdurrahman as-Saqqof:

Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah. Sholawat dan salam untuk Saidina Rasulillah saw, ahli keluarganya, dan semua yang bersamanya. Sepenjang pengalaman saya dalam bidang dakwah dan pergaulan dengan manusia, saya mendapati ada suatu perkara yang penting yang selalu ditanyakan oleh para remaja dan orang ramai: "Bagaimana menjadikan akhlaku indah dan mulia? Bagaimana saya dapat berakhlak dengan akhlak yang mulia?"

Perkara ini memeiliki dua kaidah yang penting. Jika manusia mampu memahami dan beramal dengannya, serta memberi perhatian kepadanya. dia akan mendapati akhlaknya akan berubah menjadi baik, sedikit demi sedikit. 

Wednesday, September 2, 2015

Mengenal Syeikh al-Qurra' dari Syiria

Foto: Syeikh Kurayim Rajih saat baru tiba di Malaysia, disambut muridnya Syeikh Feras Salou.
Namanya Syaikh Kurayim Rajih, Beliau merupakan Pentahsih Al Quran. Murid kepada Syaikh Hassan Habannakah dan Syaikh Hussin Khattab. Beliau antara rakan seperguruan Ulama' Besar di syiria seperti Syeikh Sa’id Ramadan al-Buti dan Syaikh Wahbah al-Zuhayli. Beliau digelari dengan Shaykh al-Qurra’ yang menjadi pakar rujukan dalam bidang Qira'ah Al Qur'an disyiria.

Sollu'alan Nabi .....

Friday, August 28, 2015

Syeikh AlButhy: Amalan Bathin Rahasia Sukses Amalan Lahir

Syeikh Said Muhammad Ramadhan alButhy
Suatu ketika, almarhum sheikhna Al Buty membesuk salah satu sahabatnya yang baru saja dioperasi, sahabatnya itu berkata, “Saya sangat menyayangkan waktu anda yang sangat berharga harus terbuang untuk membesuk saya, karena waktu anda adalah milik umat”.

Dengan senyum sheikhna Al Buty menjawab, “ Ada dua jenis amalan dalam hidup kita, amalan lahir dan amalan batin, keduanya saling membutuhan, tak terpisahkan. Semua pengajian, perkuliahan, seminar yang saya berikan, serta semua buku yang saya karang, itu adalah amalan lahir...

Thursday, August 27, 2015

Kiat Mudah Mengenali Ciri Ulama

Foto: Ustadz Ahmad Sarwat bersama Habib Ali bin
Abdurrahman al Habsyi, Tebet
(sumber: fp ahmad sarwat).
Salah satu ciri yang selalu terdapat pada sosok seorang ulama adalah punya guru yang cukup banyak. Lihat saja biografi para ulama, selalu ada lusinan, puluhan bahkan ratusan guru yang memang pakar di bidangnya, meski mungkin berbeda mazhabnya.
Al-Imam Asy-Syafi'i contohnya, beliau pernah berguru kepada Al-Imam Malik, mufti paling senior di Madinah. Namun beliau juga pernah berguru kepada tokoh-tokoh senior mazhab Hanafi

Tentu saja yang namanya guru pasti selalu dihormati. Dan seorang murid yang baik adalah murid yang tidak pernah melupakan rasa hormat kepada gurunya. Sebab atas jasa guru lah kita jadi orang yang berilmu.

Wednesday, August 26, 2015

Nasihat Al Habib Abu Bakar kepada Shabab Dakwah

Habib Abu Bakar alMasyhur
Sekarang saya sedang menziarahi keseluruh pelusuk Malaysia, sedang saya masih berada dalam kesakitan, namun saya masih bersemangat untuk fokus kepada pemuda-pemuda yg bergiat dengan dakwah. Saya mahu pemuda kita keluar dari sikap persempadanan, "ini pelajar Al Habib Umar, yang ini pelajar Al Habib Abu Bakar, yang ini pelajar Al Habib Salim As Syatiri, yang ini pula pelajar Al Habib Muhammad Alwi Al Maliki." Setiap dari mereka ini saling berlumba-lumba di antara satu sama lain. Masing-masing telah besarkan serban mereka, besarkan syal mereka. Seolah-olah mereka itu kerbau yg saling mahu menanduk di antara satu sama lain. Dan tidak mahu duduk bersama, baik di tepi mahupun di hadapan. Mereka juga tidak akan bercakap di antara satu sama lain. Ini maqam saya!!! Ini kedudukan saya!!! Kalian semua seperti berpuak dan berparti. Kamu juga sama seperti pertelingkahan parti di zaman ini. Masing-masing gila kuasa. Barangkali satu masa nanti agama juga akan jadi seperti pilihanraya. Tiada yg akan menaiki mimbar untuk berkhutbah melainkan yg paling banyak undinya. Tiada yg akan mengimami solat melainkan lelaki yg telah terpilih dalam pilihanraya. Apa ini semua!!!!?

Kedekatan hubungan antara Maulana Zakariyya al Khandlawi dan Muridnya, Syeikh Muhammad Alawi al Maliki

Surat Syekh Muhammad al-Maliki, Makkah kepada
Gurunya Maulana Zakariyyya al-Khandlawi, India
Foto tersebut adalah Surat dari Al Allamah Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki r.h kepada Ulama’ besar hadith, Sheikhul Hadith Maulana Muhammad Zakariyya Al Kahdahlawi r.h. iaitu Penyusun Ayat-Ayat Manzil & Kitab Fadhail Amal. : –

Sunday, August 23, 2015

Akhlak Antara Guru dan Murid

foto: (dari kiri) Syeikh Muhammad Said Ramadhan alButhi
dan Habib Ali al-Jufri.
Suatu ketika di musim panas tahun 2009, Habib Ali al-Jufri datang ke Damascus, Syiria. Beliau memberikan pengajian selama 3 malam di Masjid Agung Bani Umayyah. Tak ayal lagi, para mahasiswa yang tahu berita itu beramai-ramai menuju ke masjid agung itu untuk mendengar nasehat dari sang habib. Itu pertamakali mereka lihat secara langsung Habib Ali al-Jufri.

Friday, August 21, 2015

Syeikh Mutawalli Asy Sya'rowy saat terbesit rasa ujub dan bangga diri


Suatu ketika Fadhilah Sheikh Sya'rawi semasa hayatnya memberi kuliah di suatu tempat. Setelah selesai kuliah beliau dijemput pulang oleh pemandu peribadinya. 

Sampai di suatu selekoh, Fadhilah Sheikh Sya'rawi menyuruh pemandunya berhenti. Beliau  singgah sebentar di sebuah masjid terpencil. Pemandunya pun kehairanan kerana ketika itu bukan waktu solat.

Nasihat alMusnid alHabib Umar bin Hafidz untuk menjaga pandangan

Almusnid Alhabib Umar Bin Hafidz :

Ikutilah agama dan sunnah Rasulullah SAW. Berapa banyak TV yang berada di rumah-rumah yang telah merusak dan menghilangkan iman kita. Hal itu menjadi salah satu sebab seseorang meninggal dalam keadaan su’ul khotimah. Seperti dikisahkan seseorang yang meninggal ketika melihat gambar-gambar yang penuh maksiat di televisi dalam keadaan hatinya mati. Dan ia menjalani sakaratul maut dengan susah payah.

Adab penuntut ilmu kepada para Ulama

Fenomena Penuntut Ilmu Zaman Sekarang


Wahai anak-anakku, perhatikanlah....


Sadarilah kedudukan kita sangatlah jauh bila dibandingkan dengan para ahli ilmu atau ulama salafunasholih, baik dari kedalaman dan keluasan ilmunya, kedekatan hubungannya dengan Allah swt, kewaraan/kehati-hatiannya, kezuhudannya, atau ketawadhuannya.

Namun, fenomena yang sering terjadi akhir-akhir ini adalah banyaknya penuntut ilmu yang baru mulai belajar ilmu tapi gayanya sudah seperti ahli ilmu. Karena merasa dirinya sebagai ahli ilmu, maka dia mensejajarkan dirinya satu level dengan ahli ilmu atau bahkan lebih tinggi dari ahli ilmu. Tidak heran jika dia mulai mengkritik dan menyalahkan pendapat-pendapat para ulama ahli ilmu. Tidak sekedar mengkritik, bahkan terkadang dia membid’ahkan pendapat para ahli ilmu yang tidak sama dengan pendapatnya.