ASY'ARIYYAH AW MATURUDIYYAH DALAM I'TIQOD | SALAH SATU DARIPADA EMPAT MADZHAB DALAM FIQIH | BERTARIQAT DALAM TASAWUF

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Alhamdulillah dapat bershilaturrahim hadir memenuhi undangan Acara Haul Habib Munzir Al-Musawa."

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Alhamdulillah dapat bershilaturrahim hadir memenuhi undangan Acara Haul Habib Munzir Al-Musawa."

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Banyak kebaikan Habib Munzir untuk umat dan persatuan umat. Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan beliau dan menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW"

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Banyak kebaikan Habib Munzir untuk umat dan persatuan umat. Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan beliau dan menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW"

muktamar tasawuf sedunia di Chechnya.

Habib Sholeh Aljufri bersama guru mulia Alhabib Umar bin Hafidz, Mufti Mesir Syiekh Shauki dan ulama2 dari Beirut, Syiria dll

Habib Ali alJufri dan Guru Beliu, Syeikh Maliki

Habib Ali al-Jufriy: "Ketika aku mendengar orang berbicara atas nama Islam dengan bahasa yang kasar dan caci-maki, aku bersyukur kepada Allah tidak memahami Islam lewat lisan mereka."

25yyTB_kiZg
Showing posts with label dakwah. Show all posts
Showing posts with label dakwah. Show all posts

Sunday, September 20, 2015

Metode Dakwah Habib Umar bin Hafidz

Foto: Habib Umar bin Hafidz bersama muridnya, Habib Ali al-Jufri. 

Seorang Syaikh bercerita tentang Habib Umar bin Hafidz yang pergi berdakwah menghabiskan waktunya mengunjungi umat atau mengajari ilmu pada murid muridnya sepanjang hari, ketika malam tiba dia berdiri duduk atau berbaring, sholat, mengaji dan berdzikir sepanjang malam, saat di tanya, kapan punya waktu istirahat? Beliau menjawab "hingga hari aku bertemu kekasihku Rasulullah Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam dan Allah Subhahu Wa Ta'ala"


Banyak pendakwah mencapai keberhasilan setelah berdakwah dari satu tempat berpindah ke tempat lain. 

Habib Umar bin Hafidz mengambil metode lain, beliau pergi berdakwah untuk mengunjungi dan mengetuk setiap pintu hati orang yang di temuinya. Oleh Beliau (Habib Umar bin Hafidz), setiap orang dianggap sangat penting, diperhatikan, dan diperhitungkan, serta didoakan.

Aku (Habib Ali alJufri) mengatakan ini pada kalian bukan dengan niat melebih-lebihkan atau memuji Habib Umar secara berlebihan..

Tapi memang itulah kenyataannya, begitulah cara berdakwah dengan kelembutan, itu caranya agar bisa membawa umat untuk dekat dengan Pencipta mereka. Ketulusan adalah kuncinya..

Ini tidak berarti bahwa jika Anda ingin berdakwah Anda harus memiliki ilmu yang sangat luas, atau menjadi pembicara yang hebat. Anda hanya perlu memiliki cinta dan ketulusan dengan Allah.

Karena hanya Allah yang memiliki kontrol atas hati manusia. Banyak orang berpikir bahwa untuk dakwah, mereka harus mendapatkan keberhasilan langsung dan mereka harus melihat hasilnya ada ditangan mereka. Tapi mereka gagal untuk menyadari bahwa bukan mereka yang menggerakkan hati. Itu Allah ".

Sayyidil Habib Ali Zainal Abideen Al-Jifri, berbicara tentang guru tercinta, Al-Allamah Al Habib Umar bin Hafidz

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسل

Friday, September 18, 2015

Perjuangan Dakwah al-Habib Umar Bin Hafidz

Ketika aku berumur 9 tahun dan saat itu Habib Umar bin Hafidz berumur sekitar 14 tahun, aku mula belajar di Tarim, Hadhramaut. Bertepatan waktu itu kedzaliman merajalela. Orang-orang yang hendak berdakwah selalu dihalangi. Para juru dakwah harus izin terlebih dahulu dan mendapat pengesahan dari pihak kerajaan. Kaum perempuan ditindas, dan bentuk kedzaliman lainnya.


Kejadian naas pun dialami oleh Habib Umar, yang menjadi awal perpisahannya dengan sang ayahanda. Seusai shalat, ayah Habib Umar keluar dari masjid untuk membuat perizinan kepada pemerintah guna keluar berdakwah. Ditunggu lama ayahnya tak balik lagi ke masjid. Habib Umar sampai mencari-cari di mana ayahandanya, tetap dengan hasil nihil.

Bayangkan seorang lelaki kecil kehilangan seorang ayah secara tiba-tiba. Habib Umar bertanya kesana-kemari, semua juga tidak tahu. Habib Umar hanya ditinggali rida' (sorban/selendang) oleh ayahandanya seusai shalat. Hanya kakandanyalah, Habib Ali Masyhur, dari keluarga beliau saat itu yang berada di Tarim. Sedangkan ibundanya berada di Mekah, dan saudara-saudara Habib Umar yang lain pun sedang berada di tempat berbeda. Hal yang demikian tidak menjadikan Habib Umar kerdil, putus asa dan sedih yang berlarut. Tapi justeru membuat semangatnya meluap dan dorongan yang kuat meneruskan perjuangan sang ayahanda.

Ketika itu aku, Habib Kadzim Assegaf, Syaikh Umar Khathib dan beberapa sahabat lainnya memutuskan mengaji kepada Habib Ali Masyhur. Kami melakukan hal itu (mengaji) pun secara sembunyi-sembunyi. Ada yang menyimpan kitabnya dalam baju, dalam bekas sayuran, atau tempat aman lainnya karena takut diketahui dan didzalimi. Betapa susah dan sukarnya hendak belajar ilmu agama kala itu.

Pada usia 16 tahun, Habib Umar sudah mulai keluar berdakwah di sekitar Tarim. Dari masjid ke masjid, mengajak manusia ke arah kebaikan. Di usianya ke 20 tahun, beliau pindah ke Baidha' dengan harapan bisa pergi ke Mekah untuk mengaji di sana.

Dengan hanya berbekal 100 Riyal Yaman, tanpa meminta-meminta kepada siapapun Habib Umar akhirnya sampai di Baidha'. Sesampainya di sana beliau berjumpa dengan Habib Muhammad, yang merupakan sahabat dekat ayahandanya, guna meminta izin mengaji di Mekah. Namun Habib Muhammad tidak mengizinkannya. Habib Umar dimintanya mengaji dulu di Baidha'. Akhirnya, sekitar selama 10 tahun Habib Umar belajar di sana.

Semasa belajar di Baidha', kehidupan Habib Umar terbilang sangat kekurangan. Setiap hari beliau hanya makan biskut yang harganya tidak lebih dari 5 Riyal. Tetapi justeru berkat pengorbanan dan perjuangan yang tidak ringan itu akhirnya Habib Umar dikarunia ilmu yang sangat banyak.

Suatu hari, tatkala Habib Umar memulai dakwahnya di Baidha', yang didatanginya justeru ke tempat orang-orang bermain bola. Beliau menonton mereka bermain bola sampai selesai. Tentu para pemain sepak bola itu berpakaian seperti pada umumnya, bercelana pendek. Sedangkan Habib Umar berpakaian seperti laiknya para ulama juru dakwah, berjubah lengkap dengan 'imamah dan sorbannya.

Sesudah itu Habib Umar pun mendekati kedua kelompok pemain sepak bola itu, lalu berkata: "Aku telah menyempatkan diri menyaksikan permainan bola kalian tadi. Sekarang, sudilah kiranya kalian berkenan memperhatikanku. Besok aku akan menyediakan sebuah hadiah kepada grup mana yang menang dalam pertandingan nanti. Tapi dengan syarat besok kalian berpakaian celana lebih panjang lagi (yang menutupi aurat)." Mereka pun menyetujui syarat yang diminta oleh Habib Umar.

Keesokan harinya Habib Umar pun menepati janjinya dengan mendatangi dan menyaksikan permainan sepak bola itu serta membawakan sebuah hadiah bagi yang memenangkan pertandingan. Ketika hendak pulang, Habib Umar sembari senyum berkata kepada mereka: "Sekarang, telah kupenuhi janjiku kepada kalian. Sudilah kiranya nanti kalian semua berkenan hadir ke madrasahku, ikut serta mengaji. Meski sedikit, yang penting cobalah dulu."

"Sebenarnya kami mau saja menghadirinya. Hanya saja kami malu di situ banyak orang-orang yang hebat dan alim-alim." Jawab mereka.

Lalu Habib Umar berkata: "Kalau demikian, datanglah mengaji di waktu malam."

Mereka pun setuju. Mereka sangat segan dengan adab dan akhlak yang ditunjukkan Habib Umar. Dan kini, setelah sekian lama belajar kepada Habib Umar, para pemain sepak bola itu banyak yang menjadi ulama-ulama hebat dan para juru dakwah. Habib Umar telah memberikan contoh 'dakwah dari hati ke hati'.

Dan aku sekarang bukanlah hendak mengagungkan beliau. Tetapi untuk memberitahukan tentang uslub (metode) dakwah, bagaimana cara Habib Umar menyampaikan dakwahnya. Bukan syarat dakwah harus pandai bertutur kata, tetapi kuatnya mahabbah (cinta) kepada Allah lah syarat yang utama. Karena Allah lah Yang Mahamenguasai hati. Dan banyak sudah dakwah yang tidak sampai pada hasilnya. Sebab dalam dakwahnya hanya menginginkan hasil yang cepat dan instan serta memberikan kesan. Padahal semuanya adalah Allah yang mengerakkan.

(Kisah ini dituturkan oleh Habib Ali al-Jufri dalam acara Multaqa Da'i di Rubath Darul Musthafa Yaman. Habib Ali al-Jufri termasuk salah satu murid Habib Umar, dan tatkala beliau menceritkan kisah ini mengalirlah air mata Habib Umar bin Hafidz).

Wednesday, August 26, 2015

Nasihat Al Habib Abu Bakar kepada Shabab Dakwah

Habib Abu Bakar alMasyhur
Sekarang saya sedang menziarahi keseluruh pelusuk Malaysia, sedang saya masih berada dalam kesakitan, namun saya masih bersemangat untuk fokus kepada pemuda-pemuda yg bergiat dengan dakwah. Saya mahu pemuda kita keluar dari sikap persempadanan, "ini pelajar Al Habib Umar, yang ini pelajar Al Habib Abu Bakar, yang ini pelajar Al Habib Salim As Syatiri, yang ini pula pelajar Al Habib Muhammad Alwi Al Maliki." Setiap dari mereka ini saling berlumba-lumba di antara satu sama lain. Masing-masing telah besarkan serban mereka, besarkan syal mereka. Seolah-olah mereka itu kerbau yg saling mahu menanduk di antara satu sama lain. Dan tidak mahu duduk bersama, baik di tepi mahupun di hadapan. Mereka juga tidak akan bercakap di antara satu sama lain. Ini maqam saya!!! Ini kedudukan saya!!! Kalian semua seperti berpuak dan berparti. Kamu juga sama seperti pertelingkahan parti di zaman ini. Masing-masing gila kuasa. Barangkali satu masa nanti agama juga akan jadi seperti pilihanraya. Tiada yg akan menaiki mimbar untuk berkhutbah melainkan yg paling banyak undinya. Tiada yg akan mengimami solat melainkan lelaki yg telah terpilih dalam pilihanraya. Apa ini semua!!!!?