ASY'ARIYYAH AW MATURUDIYYAH DALAM I'TIQOD | SALAH SATU DARIPADA EMPAT MADZHAB DALAM FIQIH | BERTARIQAT DALAM TASAWUF

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Alhamdulillah dapat bershilaturrahim hadir memenuhi undangan Acara Haul Habib Munzir Al-Musawa."

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Alhamdulillah dapat bershilaturrahim hadir memenuhi undangan Acara Haul Habib Munzir Al-Musawa."

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Banyak kebaikan Habib Munzir untuk umat dan persatuan umat. Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan beliau dan menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW"

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Banyak kebaikan Habib Munzir untuk umat dan persatuan umat. Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan beliau dan menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW"

muktamar tasawuf sedunia di Chechnya.

Habib Sholeh Aljufri bersama guru mulia Alhabib Umar bin Hafidz, Mufti Mesir Syiekh Shauki dan ulama2 dari Beirut, Syiria dll

Habib Ali alJufri dan Guru Beliu, Syeikh Maliki

Habib Ali al-Jufriy: "Ketika aku mendengar orang berbicara atas nama Islam dengan bahasa yang kasar dan caci-maki, aku bersyukur kepada Allah tidak memahami Islam lewat lisan mereka."

25yyTB_kiZg
Showing posts with label aqidah. Show all posts
Showing posts with label aqidah. Show all posts

Wednesday, September 16, 2015

Shalahuddin al-Ayyubi: Panglima Perang bermadzhab Asy'ariyyah, asy-Syafi'iyyah, dan Bertasawuf

Foto: Makam Syeikh Said Ramadhan al-Buthi bersebelahan dengan makam Shalahuddin al-Ayyubi.
Beliau adalah al-Wazir al-Masyhur Nizam al-Mulk, as-Sulthan al-'Adil al-'Alim al-Mujahid Shalahuddin al-Ayyubi:

Dilahirkan pada tahun 532 H, beliau –semoga Allah merahmati beliau- seorang penganut Madzhab Asy’ari dalam aqidah dan pengamal Mazhab Syafi’i dalam fiqih, seorang yang berilmu, shalih, dan mutawadli’ (rendah hati), wara’, beragama, bersahaja (zuhud), sangat rajin untuk shalat berjama’ah, tekun dalam melaksanakan amalan-amalan sunnah dan shalat malam, memperbanyak dzikir, senang mendengar bacaan al Qur’an, hatinya khusyu’, banyak meneteskan air mata (karena sedih meratapi kekurangannya), teman yang pengasih, lemah lembut dan suka memberi nasehat, adil, menyayangi rakyatnya, belas kasihan dan suka menolong kepada orang-orang yang dizhalimi dan orang-orang yang lemah, pemberani, pemurah, penyabar, akhlaqnya mulia, hafal al Qur’an, hafal kitab Tanbih dalam fiqih Syafi’i, banyak bertalaqqi hadits-hadits, selalu berdo’a kepada Allah dan tidak membuatnya gentar -dalam berjuang di jalan yang diridloi Allah- celaan orang yang mencela.

Wilayah kekuasaannya dari ujung Yaman sampai Maushil, dari Tripoli barat sampai Naubah, diserahi tampuk pemerintahan untuk seluruh daerah Syam, Yaman dan cakupannya seperti Emirat, Qatar, Bahrain, Oman, juga seluruh Hijaz, seluruh daerah di Mesir, banyak membangun dan menyemarakkan masjid-masjid dan madrasah-madrasah, menyemarakkan benteng di gunung, pagar di Kairo, membangun Kubah makam Imam Syafi’i, menghapus penarikan pajak, membuka sekitar tujuh puluh lebih kota dan benteng-benteng, membebaskan Quds (palestina) dan menyucikannya setelah dikuasai selama 90 tahun oleh orang-orang kafir. 
Wafat pada tahun 589 H, pada saat meninggal beliau berumur 57 tahun, dan tidak mewariskan kekuasaan ataupun tanah.

Di antara manaqib-manaqib beliau :

Pada masa kekuasaannya beliau memerintahkan pada muadzin untuk mengumandangkan dasar-dasar aqidah sesuai dengan ibarat-ibarat Imam al Asy’ari di atas menara-menara sebelum adzan Shubuh dan agar diajarkan nazhaman yang dikarang oleh Muhammad ibn Hibatillah al Barmaki untuk anak-anak di kuttab-kuttab, nadzoman ini dinamkan Aqidah al Mursyidah, dan para muadzin pun melaksanakannya di setiap malam diseluruh masjid– masjid jami’, kebiasaan itupun berlanjut sekitar 400 tahun lebih. Di antara bait-baitnya adalah sebagai berikut : 

وصانع العالم لا يحويه قطر تعالى الله عن تشبيه
قد كان موجودا ولا مكان وحكمه الآن على ما كان
سبحانه جل عن المكان وعز عن تغير الزمان
فقد غلا وزاد في الغلو من خصه بجهة العلو

Maknanya :

“Dan pencipta alam ini tidak diliputi oleh arah, Maha Suci Allah dari serupa” 
“Allah ada (tanpa permulaan/azali) dan belum ada tempat, dan setelah menciptakan tempat Ia tetap ada seperti semula (tanpa tempat)”
“Maha Suci Allah dari bertempat, dan Maha Suci Allah dari perubahan masa”
“Telah berlebihan dan bertambah berlebihan, orang yang menetapkan Allah ada di arah atas.”

Inilah aqidah yang diajarkan di Universitas al Azhar di Mesir, dan di Universitas az-Zaitunah di Tunisia, bahkan diseluruh wilayah Maghrib, juga di Indonesia, Malaysia, Pakistan, Turki, daratan Syam, Sudan, Yaman, Irak, India, Afrika, Bukhara, Daghistan, Afganistan, dan semua Negara-negara Islam.

Sejarawan Taqiyuddin al–Maqrizi (w.845H) dalam kitabnya al Mawaizh Wal I’tibath Bidzikril Alkhithoti Wal Atsar berkata : “Ketika Sultan Shalahuddin Yusuf bin Ayyub diserahi jabatan pemerintahan, beliau mengeluarkan satu perintah kepada para muadzin untuk mengumandangkan di atas menara–menara pada malam hari menjelang shubuh pembacaan aqidah yang dikenal dengan al Aqidah al Mursidah dan selanjutnya para muadzin melaksanakan secara terus menerus perintah itu dengan membacakan kitab aqidah tersebut di setiap malam di seluruh masjid jami’ di Mesir sampai sekarang.

Al Hafidz Jalaluddin as-Suyuti (w. 911 H) dalam kitabnya al-Wasa’il ilaa Ma’rifat al-Awa’il : “Ketika Sultan Shalahuddin Yusuf bin Ayyub diserahi pemerintahan, beliau membuat satu perintah kepada para muadzin untuk mengumandangkan di atas menara–menara pada malam hari menjelang shubuh pembacaan aqidah yang dikenal dengan al Aqidah al Mursyidah dan selanjutnya para muadzin melaksanakan secara terus menerus perintah itu dengan membacakan kitab aqidah tersebut di setiap malam di seluruh masjid jami’ di Mesir sampai sekarang”.

Al ‘allaamah Muhammad ibn ‘Allan ash-Shiddiqi as-Syafi’i (w. 1057 H) dalam kitabnya al-Futuhat ar-Rabbaniyah ‘ala al-Adzkar an-Nawawiyah berkata : “Ketika Shalahuddin ibn Ayub diserahi jabatan pemerintahan dan beliau menghimbau masyarakat untuk teguh mempertahankan aqidah Asy’ari, beliau memerintahkan kepada para muadzin untuk mengumandangkan aqidah Asy’ariyah yang di kenal dengan sebutan al-Aqidah al-Mursyidah,dan mereka terus menjalankan perintah itu dan membacakan aqidah ini setiap malamnya sebelum shubuh”.

Dalam kitab Thabaqat asy-Syafi’iyah Tajuddin as-Subki mengatakan bahwa Syekh Fahruddin ibn Asakir mengajarkan al-Aqidah al-Mursyidah .

Di Damaskus al-Hafidz Shalahuddin al-‘Ala’i (W.761.H) sebagaimana dinukil oleh as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi’iyah berkata dan al Aqidah al Mursyidah ini pengarangnya benar–benar berada di jalan yang lurus dan dia telah benar dalam mensucikan Allah yang maha agung.

Tajuddin as-Subki (w.771H) dalam kitabnya Mu’id an-Ni’aam wa Mubid an-Niqaam mengatakan: “Aqidah Asy’ari ialah aqidah yang terdapat pada kitab aqidah karya Abu Ja’far ath-Thahawi, Aqidah Abu al Qasim al Qusyairi, dan aqidah yang terkenal yang bernama al Aqidah al Mursyidah, ke empat–empatnya sama-sama meyakini dasar-dasar aqidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Imam Muhammad ibn Yusuf as-Sanusi (w.895H) dalam Syarahnya: “al-Aqidah al-Mursyidah yang dinamakan dengan al-Anwar al-Mubayyinah li Ma’ani ‘Iqdi al-Aqidah al-Mursyidah bersepakat para imam-imam atas kebenaran aqidah ini dan aqidah ini adalah aqidah mursyidah rosyidah.”

Tuesday, September 15, 2015

Kalangan Anti-Takwil: Antara Bingung atau Berubah Fikiran


Mereka kalangan anti-asy'ariyyah yang juga anti-takwil masih saja memunculkan sikap yang kontradiktif dalam menyikapi teks-teks tentang sifat. Di antaranya ketika menyikapi sifat “bosan” yang dilekatkan kepada Allah SWT. Sebagian di antara mereka akhirnya bergabung dengan kalangan pro-takwil (Ahlussunnah), sebagian lagi bersikukuh dengan anti-takwilnya meskipun harus rela terjebak dalam kebingungan yang nyata.

Sumbernya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

عليكم بما تطيقون فوالله لا يمل الله حتى تملوا وكان أحب الدين إليه مادام عليه صاحبه

“Hendaknya kalian beramal sesuai sesuai dengan kemampuan kalian. Demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan. Agama yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dirutinkan oleh pelakunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari menjelaskan:

قوله : ( لا يمل الله حتى تملوا ) هو بفتح الميم في الموضعين ، والملال استثقال الشيء ونفور النفس عنه بعد محبته ، وهو محال على الله تعالى باتفاق

“Arti bosan adalah merasakan berat dan berpalingnya diri dari sesuatu setelah menyukainya. Ini mustahil terjadi pada Allah SWT secara sepakat.”

Imam Al-Khattabi mengatakan:

الملال لا يجوز على الله تعالى بحال، ولا يدخل في صفاته بوجه، وإنما معناه أنه لا يترك الثواب والجزاء على العمل ما لم تتركوه

“Bosan itu tidak mungkin terjadi pada Allah dalam keadaan apapun. Dan tidak termasuk sifat-Nya. Yang dimaksud di sini adalah Dia tidak meninggalkan pahala dan balasan atas amalan selama mereka tidak meninggalkan amalan itu.” (Al-Asmaa wash Shifaat karangan Imam Al-Baihaqi)

Imam An-Nawawi mengatakan:

قال العلماء : الملل والسآمة بالمعنى المتعارف في حقنا محال في حق الله تعالى ، فيجب تأويل الحديث

“Ulama mengatakan bahwa kata ‘bosan’ yang kita kenal selama ini mustahil terjadi pada Allah SWT, sehingga wajib ditakwilkan.” (Syarah Shahih Muslim)

Imam Al-Qurthubi mengatakan:

ظاهره محال على الله تعالى، فإن الملال فتور عن تعب وألم عن مشقة، وكل ذلك على الله تعالى محال

“Makna yang mengemuka dari kata itu mustahil terjadi pada Allah SWT, karena sesungguhnya bosan itu artinya berhenti karena lelah dan merasa sakit karena keberatan. Semua itu mustahil bagi Allah SWT.” (Al-Mufhim: 413)

Begitu juga Imam Al-Maziri mengatakan:

الملالة التي بمعنى السآمة لا تجوز على الله تعالى

“Kata ‘malalah’ yang artinya bosan itu mustahil bagi Allah SWT.”

Kalau kita telusuri kitab-kitab Ahlussunnah lainnya, kita akan mendapati berlipat-lipat kali seperti penjelasan di atas. Sekarang bandingkan dengan perkataan kalangan anti-takwil dalam memahami hadits di atas:

إنَّ هذا دليل على إثبات الملل لله ، لكن ؛ ملل الله ليس كملل المخلوق ؛ إذ إنَّ ملل المخلوق نقص ؛ لأنه يدل على سأمه وضجره من هذا الشيء ، أما ملل الله ؛ فهو كمال وليس فيه نقص ، ويجري هذا كسائر الصفات التي نثبتها لله على وجه الكمال وإن كانت في حق المخلوق ليست كمالاً

“Sesungguhnya hadits ini merupakan dalil penetapan sifat al-malal (bosan) bagi Allah. Akan tetapi, sifat bosan Allah tidaklah seperti sifat bosan makhluk. Sifat bosan makhluk adalah kekurangan, karena hal itu menunjukkan kejemuan dan kebosanan akan sesuatu. Adapun sifat bosan Allah adalah sempurna tanpa ada padanya kekurangan. Sifat ini berjalan sebagaimana seluruh sifat-sifat yang kita tetapkan bagi Allah dalam kesempurnaan; meskipun jika itu ada pada makhluk tidak menunjukkan kesempurnaan.”

Di akhir perkataan ia berkesimpulan:

وعلى كل حال يجب علينا أن نعتقد أنَّ الله تعالى مُنَزَّه عن كل صفة نقص من الملل وغيره ، وإذا ثبت أنَّ هذا الحديث دليل على الملل ؛ فالمراد به ملل ليس كملل المخلوق.

“Bagaimanapun sebenarnya, wajib bagi kita untuk meyakini bahwasannya Allah ta’ala terhindar dari setiap sifat kurang berupa sifat bosan atau yang lainnya. Dan apabila telah shahih bahwa hadits ini menunjukkan sifat bosan, maka maksud dari sifat bosan itu, tidaklah seperti sifat bosannya makhluk.”

Bahkan ada pula yang bersikukuh berpendapat bahwa semua itu bukanlah takwil. Ia mengatakan:

وهذا ليس تأويلاً، بل تفسير الحديث على ظاهره

“Ini bukanlah takwil, melainkan menafsirkan hadits secara zhohir.”

Sekarang pertanyaannya, jikalau memang semua itu tidak disebut takwil tapi tafsir secara zhohir, sekarang apa makna zhohir dari kata ‘bosan’? Kalau dijawab: maknanya tidak diketahui, maka inilah hakikat mazhab tafwidhul ma’na yang mereka ingkari sendiri.

Maka, ambillah pelajaran dari semua ini, wahai orang-orang yang berakal.

Wallahul musta’aan.

Antara Nama-nama Besar Ulama Bermadzhab Asya'irah


Berikut ini pandangan tokoh-tokoh Salafi atau Wahhabi yang mensesatkan setiap orang yang beraqidah Asy'ariyyah:


‘Abdullah ibn Baz dalam buku yang ia tulis sebagai bantahan terhadap Syekh Muhammad ‘Ali as-Shabuni, berjudul Tanbihat Hammah ‘Ala Ma Katabahu as-Syaikh Muhammad ‘Ali as-Shabuni Fi Shifatillah. Lihat dalam cetakan Jam’iyyah at-Turats al-Islami, Kuwait, h. 22, Ibn Baz menuliskan sebagai berikut:
“Sesungguhnya mensucikan Allah dari dari al-Jism (bentuk/tubuh), as-Shimakh (gendang telinga), al-Lisan (lidah), al-Hanjarah (tenggorokan) bukanlah model pembicaraan orang-orang Ahlussunnah. Akan tetapi hal semacam itu merupakan bahasan-bahasan para Ahli Kalam yang tercela yang mereka buat-buat saja” (lihat Tanbihat Hammah, h. 22).

‘Abd ar-Rahman ibn Hasan, yang merupakan cucu dari Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab, pendiri gerakan Wahhabi. Dalam tulisannya, setelah ia mengungkapkan kesesatan kaum Jahmiyyah sebagai kaum yang menafikan sifat-sifat Allah (Mu’aththilah), ia kemudian mengatakan:
“Kesesatan kaum Jahmiyyah ini kemudian diikuti oleh kaum Mu’tazilah dan kaum Asya’irah dan beberapa kelompok lainnya. Karena itu mereka semua telah dikafirkan oleh banyak kalangan Ahlussunnah” (Lihat buku mereka berjudul Fath al-Majid, cet. Maktabah Darussalam, Riyadl, 1413-1992, h. 353).
Shalih ibn Fauzan al-Fauzan, dengan tanpa sungkan ia berkata:
“Kaum al-Asy’ariyyah dan kaum al-Maturidiyyah adalah kaum yang menyalahi para sahabat dan Tabi’in, juga para Imam madzhab yang empat dalam kebanyakan permasalahan akidah dan dasar-dasar agama. Karenanya mereka tidak layak untuk diberi gelar Ahlussunnah Wal Jama’ah” (Lihat dalam karyanya berjudul “Min Masyahir al-Mujaddidin Fi al-Islam; Ibn Taimiyah, Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab”. Cet. Dar al-Ifta’, Saudi Arabia, 1408 H, h. 32).
Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin, salah seorang pendakwah ajaran Wahhabi terdepan, dalam salah satu bukunya berjudul Liqa’ al-Bab al-Maftuh menuliskan sebagai berikut:
Soal: “Apakah Ibn Hajar al-‘Asqalani dan an-Nawawi dari golongan Ahlussunnah atau bukan?”.
Jawab (‘Utsaimin): “Dilihat dari metode keduanya dalam menetapkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah maka keduanya bukan dari golongan Ahlussunnah”.
Soal: “Apakah kita mengatakan secara mutlak bahwa keduanya bukan dari golongan Ahlussunnah?”.
Jawab: “Kita tidak memutlakan” (Lihat buku dengan judul Liqa al-Bab al-Maftuh, cet. Dar al-Wathan, Riyadl, 1414 H, h. 42).
Mereka telah menyesatkan para ulama sekelas al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani, al-Imam al-Hafizh an-Nawawi, al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi dan para ulama terkemuka lainnya. Namun yang sangat mengherankan; di saat yang sama mereka juga menggunakan karya-karya para ulama Ahlussunnah tersebut sebagai referensi kajian mereka. Hasbunallah.

Berikut adalah kalam salah satu Ulama beraqidah Asy-'Ariyyah:

al-Imâm al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 852 H) dalam karyanya sangat mashur Fath al-Bari dalam menjelaskan kesucian Allah dari tempat dan arah, beliau menuliskan:
“Bahwa arah atas dan arah bawah adalah sesuatu yang mustahil atas Allah, hal ini bukan berarti harus menafikan salah satu sifat-Nya, yaitu sifat al-‘Uluww. Karena pengertiannya adalah dari segi maknawi bukan dari segi indrawi. (Dengan demikian makna al-‘Uluww adalah Yang maha tinggi derajat dan keagungan-Nya, bukan dalam pengertian berada di arah atas). Karena mustahil pengertian al-‘Uluww ini secara indrawi. Inilah pengertian dari beberapa sifat-Nya; al-‘Aali, al-‘Alyy dan al-Muta’li. Ini semua bukan dalam pengertian arah dan tempat, namun demikian Dia mengetahui segala sesuatu” (Fath al-Bari, j. 6, h. 136).
Pada bagian lain dalam kitab yang sama tentang pembahasan hadits an-Nuzul beliau menuliskan sebagai berikut:
“Hadits ini dijadikan dalil oleh orang yang menetapkan adanya arah bagi Allah, yaitu arah atas. Namun demikian kayakinan mayoritas mengingkari hal itu. Karena menetapkan arah bagi-Nya sama saja dengan menetapkan tempat bagi-Nya. Dan Allah maha suci dari pada itu” (fath al-Bari, j. 3, h. 30).
Pada bagian lain beliau menuliskan:
“Keyakinan para Imam salaf dan ulama Ahlussunnah dari Khalaf adalah bahwa Allah maha suci dari gerak, berpindah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain, menyatu dengan sesuatu. Dia tidak menyerupai segala apapun” (Fath al-Bari, j. 7, h. 124).

Berikut Nama-Nama Ulama Beraqidah Asy'ariyyah:

Antara Ulama’-Ulama’ dalam Bidang Aqidah yang Bermazhab Al-Asya’irah
  • Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari, pengarang kitab Al-Luma’ dan Maqolat Islamiyyin
  • Imam Al-Baqillani (405H)
  • Abu Ishaq Al-Isfarayini (418 H)
  • Imam Ishaq As-Syirazi (476 H)
  • Imam Al-Juwaini
  • Imam Al-Haramain Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini (478 H), pengarang kitab An-Nizomiyah
  • Imam Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali r.a. pengarang kitab Al-Iqtisod fi Al-I’tiqod (505 H)
  • Imam Ibn ‘Asakir (576 H), pengarang kitab tabiyiin Kazb Al-Muftari
  • Imam As-Syahristani (548 H)
  • Imam Fakhruddin Ar-Razi pengarang kitab Asas At-Taqdis (606 H)
  • Imam Al-Allamah Al-Amadi (631 H)
  • Imam Al-Iji (756 H)
  • Imam Sa’ad At-Taftazani (793 H) pengarang kitab syarh Al-Maqosid
  • Imam As-Syarif Al-Jurjani (816 H)
  • Imam Abu Mansur At-Tamimi
  • Imam Nas Al-Maqdisi
  • Imam Al-Farawi
  • Imam Abu Al-Walid Al-Baji
  • Imam Al-Bahili
  • Imam Sultonul Ulama’ Izz ibn Abdis Salam
  • Imam HibbatulLah Al-Makki
  • Imam Al-Baijuri
Antara Mufassir-mufassir Bermazhab Al-Asy’ari
  • Imam Al-Mufassir Al-Allamah Al-Qurtubi r.a.
  • Imam Al-Mufassir Ibn Kathir (rujuk buku tobaqot As-Syafi’iyyah Al-Kubra 10/200 karangan Imam As-Subki, Ad-Durar Al-Kamin 1/85 karangan Ibn Hajar dan sebagainya)
  • Imam Al-Mufassir Ibn ‘Athiyyah Al-Andalusi r.a., pengarang kitab tafsir Al-Muharrar Al-Wajiz
  • Imam Al-Mufassir Abu Hayyan Al-Andalusi r.a., pengarang kitab Al-Bahr Al-Muhith.
  • Imam Al-Mufassir Fakhruddin Ar-Razi r.a., pengarang kitab tafsir mafatih Al-Ghaib
  • Imam Al-Mufassir Al-Hafiz Al-Buhgowi, pengarang kitab tafsir Al-Bughowi dan kitab Syarh As-Sunnah.
  • Imam Al-Mufassir Abu Al-Laith As-Samarqandi r.a., pengarang kitab tafsir Bahr Al-Ulum, kitab bustanul Arifin dan tanbih Al-Ghafilin.
  • Imam Al-Mufassir Abu Al-Hasan Ali An-Naisaburi pengarang kitab asbab An-Nuzul.
  • Imam Al-Mufassir Abu At-Thana’ Syihabuddin Al-Alusi Al-Husaini Al-Hasani r.a.
  • Imam Al-Mufassir At-Thamin Al-Halabi r.a., pengarang kitab tafsir Ad-Durr Al-Mashun.
  • Imam Al-Mufassir Al-Hafiz Jalaluddin As-Suyuti r.a., pengarang kitab tafsir Ad-Durr Al-Manthur.
  • Al-Imam Al-Khotib As-Syirbini r.a., pengarang kitab tafsir As-Siraj Al-Munir.
  • Imam Al-Allamah At-Thohir bin Asyur, pengarang kitab At-Tahrir wa At-Tanwir
  • Imam Az-Zarkasyi
  • Imam Mutawalli As-Sya’rawi r.a.
 
Ulama’-ulama’ Muhaddithin (hadith) yang bermazhab Al-Asya’irah
  • Imam Al-Hafiz Abu Al-Hasan Ad-Darqutni r.a.
  • Imam Al-Hafiz Abu Nu’aim Al-Ashbahani r.a., pengarang kitab hilyatul Auliya’
  • Imam Al-Hafiz Al-Hakim An-Naisaburi, pengarang kitab Mustadrak
  • Imam Al-Hafiz Ibn Hibban, pengarang kitab At-Thiqat
  • Imam Al-Hafiz Abu Sa’id Ibn As-Sam’ani r.a., pengarang kitab Al-Inshof
  • Imam Al-Hafiz Abu Bakr Al-Baihaqi r.a., pengarang kitab-kitab hadith dan kitab Al-Asma’ wa As-Sifat.
  • Imam Al-Khatib Al-Baghdadi
  • Imam Al-Hafiz Muhyiddin Yahya bin Syarf An-Nawawi r.a., pengarang kitab syarh sahih muslim dan banyak lagi.
  • Sheikhul Islam Imam Al-Hafiz Abu Amr bin As-Solah
  • Imam Al-Hafiz Ibn Daqiq Al-‘Aid
  • Imam Al-Hafiz Ibn Abi Jamrah Al-Andalusi, musnid Ahlul Maghrib
  • Imam Al-Hafiz Al-Karmani, pengarang syarah sahih Al-Bukhari
  • Imam Al-Hafiz Al-Munziri, pengarang At-Targhib wa At-Taqrib
  • Imam Al-Hafiz Al-Abi, pensyarah sahih Muslim
  • Imam Al-Hafiz Ibn Hajar Al-Asqolani, pengarang fahtul Bari dan sebagainya.
  • Imam Al-Hafiz As-Sakhowi r.a.
  • Imam Al-Qostollani r.a. pengarang Irsyad As-Sariy
  • Imam Al-Hafiz Al-Munawi r.a..
  • Imam Al-Hafiz Ad-Dimyathi r.a.
  • Sheikh Al-Hafiz Waliyullah Al-Dahlawi r.a.
  • Sheikh Abu Al-Mahasin Al-Qouquji
  • Sheikh Al-Hafiz Ahmad As-Siddiq Al-Ghumari r.a..
  • Sheikh Al-Musnid Muhammad Al-Hafiz At-Tijani.
  • Sheikh Musnid Ad-Dunya, Sheikh Muhammad Yasiin Al-Fadani.
  • Sheikh Al-Musnid Abbas Al-Maliki
  • Antara Ulama’-ulama’ Sirah yang Bermazhab Al-Asy’ari
  • Imam Qadhi ‘Iyad, pengarang kitab As-Syifa fi syama’il wa ahwal Al-Mustofa
  • Imam As-Suhaili r.a., pengarang kitab Ar-Raudh Al-Unf
  • Sheikh Ibn Khaldun
  • Imam Ibn Athir r.a.
  • Imam As-Solihi Ad-Dimasqi, pengarang kitab Subulul Huda wa Ar-Rosyad
  • Sheikh Yusuf An-Nabhani r.a.

Antara Ulama’-ulama’ Fiqh yang Bermazhab Al-Asy’ari

Menurut Imam Tajuddin As-Subki, majoriti ulama’ mazhab As-Syafi’ie, Malikiyah, Hanafiyah dan Sebahagian ulama’ Hanabilah bermazhab Al-Asy’ari. Demikian diriwayatkan daripada Imam Izzuddin bin Abdil-Salam yang turut diakui oleh Imam Abu Amr ibn Hajib dan Jamaluddin Al-Husairi. (At-Tobaqot 3/365)
 

Namun, kita senaraikan antara fuqaha’ yang kuat mempertahankan mazhab Al-Asy’ari ini iaitu:
  • Imam Tajuddin As-Subki, pengarang kitab Al-Saif As-Saqil
  • Imam Sheikhul Islam Zakaria Al-Ansori r.a..
  • Imam Ar-Rafi’ie As-Syafi’e
  • Imam Ibn ‘Abidin
  • Imam Ibn Hajib.
  • Imam Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad r.a.
  • Imam ‘Alauddin Al-Bukhari
  • Imam Al-Baidhowi r.a.
  • Imam Az-Zabidi r.a.
  • Imam Al-Qorofi r.a.
  • Mufti Makkah Sheikh Ahmad Zaini Dahlan As-Syafi’e
  • Antara Ulama’-ulama’ Qiraat yang Bermazhab Al-Asy’ari
  • Imam Al-Qari’ Ibn Jazri
  • Imam As-Syatibi r.a.
Antara Pemimpin-pemimpin Islam yang Masyhur yang Bermazhab Al-Asy’ari
  • Sultan Salehuddin Al-Ayubi
  • Sultan Muhammad Al-Fateh
  • Dan ramai lagi para ulama’ Islam yang bermazhab Al-Asy’ari...
Semoga Allah s.w.t. memberkati mereka dan seluruh umat Islam... Amin

Thursday, September 10, 2015

Nasihat Syeikh Dr. Yusuf Qordhowi agar Aqidah al-Asy'ariyyah terus dijaga di Malaysia

Disebutkan dalam islamonline.net di bawah tajuk:“القرضاوي يدعو ماليزيا للتمسك بشخصيتها الإسلامية” (Maksudnya: Al-Qaradhawi mengajak Malaysia agar Berpegang dengan Jati Diri/Peribadi Keislamannya) antaranya:


الدوحة- دعا العلامة الشيخ يوسف القرضاوي ماليزيا إلى المحافظة على شخصيتها الإسلامية المتمثلة في مذهبها الشافعي وعقيدتها الأشعرية للوقوف أمام أي تسلل فكري من الخارج.

Friday, August 28, 2015

Mereka dalam Memaknai Ayat-Ayat Mutasyabihat

Foto: Sayyid Ahmad Siddiq al-ghumari(abang-kiri)
dan Sayyid Abdullah al-Ghumari (kanan)
Al-Hafizh Ahmad bin Muhammad bin al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani adalah ulama ahli hadits yang menyandang gelar al-hafizh.

Ia memiliki kisah perdebatan yang sangat menarik dengan kaum yang menentang bahwa "Allah tidak bertempat dan berarah". Dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar, sebuah autobiografi yang melaporkan perjalanan hidupnya, beliau mencatat kisah berikut ini.

“Pada tahun 1356 H ketika saya menunaikan ibadah haji, saya berkumpul dengan tiga orang ulama dari kaum tersebut di rumah Syaikh Abdullah al-Shani’ di Mekkah yang juga ulama dari kaum tersebut dari Najd.