ASY'ARIYYAH AW MATURUDIYYAH DALAM I'TIQOD | SALAH SATU DARIPADA EMPAT MADZHAB DALAM FIQIH | BERTARIQAT DALAM TASAWUF

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Alhamdulillah dapat bershilaturrahim hadir memenuhi undangan Acara Haul Habib Munzir Al-Musawa."

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Alhamdulillah dapat bershilaturrahim hadir memenuhi undangan Acara Haul Habib Munzir Al-Musawa."

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Banyak kebaikan Habib Munzir untuk umat dan persatuan umat. Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan beliau dan menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW"

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Banyak kebaikan Habib Munzir untuk umat dan persatuan umat. Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan beliau dan menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW"

muktamar tasawuf sedunia di Chechnya.

Habib Sholeh Aljufri bersama guru mulia Alhabib Umar bin Hafidz, Mufti Mesir Syiekh Shauki dan ulama2 dari Beirut, Syiria dll

Habib Ali alJufri dan Guru Beliu, Syeikh Maliki

Habib Ali al-Jufriy: "Ketika aku mendengar orang berbicara atas nama Islam dengan bahasa yang kasar dan caci-maki, aku bersyukur kepada Allah tidak memahami Islam lewat lisan mereka."

25yyTB_kiZg
Showing posts with label teladan. Show all posts
Showing posts with label teladan. Show all posts

Sunday, October 11, 2015

Kemuliaan Wanita Tarim Hadramaut


Saudaraku yang kucintai, tahukah kita, kenapa wanita kota Tarim layak dibahas di sini? Adakah keistimewaan dari para wanita bumi para wali tersebut? Saudaraku, wanita di kota Tarim Hadlramaut sangat jauh berbeda dengan sebagian besar wanita-wanita muslimah di dunia, bahkan di wilayah lain di kota-kota yang juga di Hadlramaut pun sudah banyak yang pudar ketegasan syari’ahnya. Wanita-wanita Tarim itu terbiasa dari sejak kecil dibesarkan di lingkungan ulama’, obrolan siang malam mereka adalah obrolan majelis ilmu, al Qur’an, adab, akhlak, tasawwuf. 

Demikianlah mereka dibesarkan, mereka dibesarkan tidak kenal musik, tidak kenal kebiadaban, tidak kenal wajah orang fasiq, bahkan para wanitanya itu tidak pernah melihat lelaki selain ayahnya, saudara lelakinya, dan pamannya.

Saat seorang wanita Tarim menikah, ketika ditanya, apa sih kesannya saat awal berjumpa? Ia menjawab, “saya bingung, seumur hidup saya belum pernah melihat lelaki selain kakak kandung saya, lalu ini ada lelaki asing duduk di kamar saya”.

Demikianlah keadaan mereka, mereka tak pernah menyusahkan suaminya, demikian pula suami pada istrinya. Bila susu habis misalnya, atau beras, atau apa saja yang perlu dibeli, mereka tak berani bicara pada suaminya, karena takut suaminya sedang tidak ada uang, atau sedang sibuk, maka mereka taruhlah bungkus-bungkus kosong itu kira-kira di tempat yang sekiranya menyolok dan terlihat oleh suaminya.

Demikian pula suami, seluruh hajat pasar, sayur dan lainnya, suami yg belanja, istrinya boleh saja keluar ke pasar kaum wanita, misalnya belanja baju, atau barang barang khusus wanita, namun jika urusannya adalah dapur, sayur, beras, dll, itu adalah tugas suami atau pembantu.

Istri selalu membuat kamar tidur wangi, bila suaminya pulang maka pastilah kamar sudah ditata rapih dan sangat wangi, pakaian suami sudah pasti wangi, kamar mandi wangi, semua ditata serapi mungkin.

Istri tak pernah mengangkat suara pada suami, tak pernah marah, tak pernah cemberut, bila mereka kesal mereka menangis dan mengadu pada suaminya dengan lirih, itulah marah mereka.

Demikian pula suami, tak pernah marah pada istri, apalagi mencaci. Bila sudah sangat kesal atas sesuatu, suami tulis surat pada istri lalu pergi atau tidur, nanti istri menjawab pula, lalu suami menjawab pula, akhirnya keduanya tertawa bersama.

Indahnya kota Tarim dan indah pula akhlak penghuninya. Tiada kita jumpai, para wanitanya keluar rumah setiap saat di jalanan kota. Bila mereka ada hajat yang sangat penting, maka ada waktu khusus yang telah dimaklumkan oleh penduduk Tarim bagi para wanitanya, yakni selepas maghrib hingga selesainya jama’ah sholat Isya’. Kenapa? Karena disaat itulah para lelaki kota Tarim sedang berada di Masjid untuk berjama’ah Maghrib.

Masih banyak lagi keunikan dan seni budi pekerti Nabi Muhammad SAW dalam rumah tangga nabawiy yg sulit kita temukan di masa kini, seperti yang dipraktekkan penduduk Tarim.

Saudaraku, bukankah segala kebaikan dan suri tauladan dari Nabi SAW, adalah untuk ditiru dan di dakwahkan? Semoga kita bisa meneladani sifat-sifat Nabawiy seperti halnya yang telah dilakukan oleh para penduduk Tarim, aamiin.

Sumber: website Pondok Habib

Sunday, September 20, 2015

Metode Dakwah Habib Umar bin Hafidz

Foto: Habib Umar bin Hafidz bersama muridnya, Habib Ali al-Jufri. 

Seorang Syaikh bercerita tentang Habib Umar bin Hafidz yang pergi berdakwah menghabiskan waktunya mengunjungi umat atau mengajari ilmu pada murid muridnya sepanjang hari, ketika malam tiba dia berdiri duduk atau berbaring, sholat, mengaji dan berdzikir sepanjang malam, saat di tanya, kapan punya waktu istirahat? Beliau menjawab "hingga hari aku bertemu kekasihku Rasulullah Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam dan Allah Subhahu Wa Ta'ala"


Banyak pendakwah mencapai keberhasilan setelah berdakwah dari satu tempat berpindah ke tempat lain. 

Habib Umar bin Hafidz mengambil metode lain, beliau pergi berdakwah untuk mengunjungi dan mengetuk setiap pintu hati orang yang di temuinya. Oleh Beliau (Habib Umar bin Hafidz), setiap orang dianggap sangat penting, diperhatikan, dan diperhitungkan, serta didoakan.

Aku (Habib Ali alJufri) mengatakan ini pada kalian bukan dengan niat melebih-lebihkan atau memuji Habib Umar secara berlebihan..

Tapi memang itulah kenyataannya, begitulah cara berdakwah dengan kelembutan, itu caranya agar bisa membawa umat untuk dekat dengan Pencipta mereka. Ketulusan adalah kuncinya..

Ini tidak berarti bahwa jika Anda ingin berdakwah Anda harus memiliki ilmu yang sangat luas, atau menjadi pembicara yang hebat. Anda hanya perlu memiliki cinta dan ketulusan dengan Allah.

Karena hanya Allah yang memiliki kontrol atas hati manusia. Banyak orang berpikir bahwa untuk dakwah, mereka harus mendapatkan keberhasilan langsung dan mereka harus melihat hasilnya ada ditangan mereka. Tapi mereka gagal untuk menyadari bahwa bukan mereka yang menggerakkan hati. Itu Allah ".

Sayyidil Habib Ali Zainal Abideen Al-Jifri, berbicara tentang guru tercinta, Al-Allamah Al Habib Umar bin Hafidz

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسل

Saturday, September 19, 2015

Syeikh Kurrayim Rajih beliau adalah Syeikh Qurra' Bilaad Syam


Kalian lihat sendiri betapa ulama' yang berusia 93 tahun, datang dari bumi Syam yang sedang bergolak, saat ini sedang melawat Malaysia, diiringi Ustaz Nazmi Karim, Beliau Syeikh Kurrayim Rajih masih mengulangi membaca dan membaca Al Quran dan mengulang hafalan Al Quran, walaupun beliau sudah bergelar Syeikh Qurra' Bilaad Syam, Ditanya apa rahsia dia sihat walaupun lahir tahun 1922 berumur 93 tahun.. "Beliau menyatakan bila kamu jaga Al Quran, Allah menjaga kamu". Mengulang matan Qiraat Syatibiyyah wa Durrah, diatas kereta, feri dan dimana sahaja..Bandingkan dengan kita? Malu rasanya.. Allah..

Friday, September 11, 2015

Maulana Zakariyya Tidak Pernah Belajar Hadist Melainkan dengan Berguru

Ini adalah kisah bagaimana kesungguhan usaha Syeikh Muhammad Zakariyya al-Khandlawi agar tidak tertinggal satu patah katapun penjelasan hadist dari Gurunya. 

Diceritakan ketika memasuki tahun akhir pengajian hadist, Maulana Zakariyya r. berazam tidak akan meninggalkan sebuah hadis pun tanpa berguru. Begitu juga sahabat sekelasnya iaitu Maulana Hasan Ahmad r. Mereka juga memastikan diri agar sentiasa berwuduk. Tetapi, masalah timbul ketika sesi pembelajaran kelas berlangsung iaitu mereka terpaksa ke tandas kerana membuang air atau terbatal wuduk kerana kelas pengajian hadis memakan masa hampir empat hingga lima jam untuk sesi pagi dan tiga jam untuk sesi petang.

Pada masa itu juga mereka mungkin perlu ke tandas untuk membuang air kecil atau memperbaharui wuduk. Untuk memastikan mereka tidak ketinggalan daripada mendengar semua hadis di hadapan gurunya itu, mereka berdua membuat satu perancangan.

Kata Maulana Zakariyya r kepada sahabatnya iaitu Maulana Hasan Ahmad r, jika beliau terpaksa keluar, sahabatnya perlu ajukan soalan kepada gurunya. Sekiranya gurunya itu selesai menjawab, Maulana Zakariyya r. meminta sahabatnya ajukan soalan yang seterusnya sehinggalah beliau pulang dan masuk semula ke kelas supaya gurunya itu tidak berpindah perbincangan ke hadis yang lain. Jika sahabatnya keluar, Maulana Zakariyya r akan membuat perkara yang sama.

Suatu hari, Maulana Hasan Ahmad r terpaksa keluar kelas untuk mengambil wuduk kerana telah batal. Beliau memberi isyarat kepada Maulana Zakariyya r dengan soalannya itu sebagaimana yang mereka janjikan sebelum ini. Maulana Zakariyya r. memulakan soalannya berkenaan dengan pandangan Ibn Humam dalam kitab Fathul Qadir.

Gurunya tersenyum sambil ketawa melihat gelagat soalan seumpama itu. Mengetahui maksud Maulana Zakariyya r. dengan soalannya itu, gurunya lantas berkata kepada Maulana Zakariyya r., “Tidak mengapa, sementara kita tunggu Hasan Ahmad datang, aku akan ceritakan kepada kamu satu kisah, tidak payahlah aku bersusah payah untuk menjawab jawapan dari pertanyaan kamu ini.”

Kesimpulan kisah ini, Maulana Zakariyya r tidak akan tinggalkan satu hadis pun yang beliau pelajari dan beliau dengari di mana gurunya ketika itu ialah ayah beliau sendiri iaitu Maulana Muhammad Yahya al-Kandahlawi r.

Begitulah kesungguhan seorang ulama yang mengutamakan kehadiran dan berguru semasa menuntut ilmu. Maka tidak hairanlah dengan perlakuan sebegitu, ilmu yang dituntutnya mendapat keberkatan dan diberkati sepanjang masa.

Seawal umur 9 tahun, beliau sudah menghafal seluruh al-Quran. Ketika berumur 20 tahun, sudah menjadi Syaikhul Hadis di Madrasah Saharanpur.

Telah menghasilkan lebih 100 buah kitab dalam pelbagai cabang ilmu yang mana terdapat kitab-kitabnya yang telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa di seluruh dunia.

Sumber:
Ashraf Shahrulail, Biografi Maulana Zakariyya al-Kandahlawi: Pencinta Sunnah

Wednesday, September 2, 2015

Mengenal Syeikh al-Qurra' dari Syiria

Foto: Syeikh Kurayim Rajih saat baru tiba di Malaysia, disambut muridnya Syeikh Feras Salou.
Namanya Syaikh Kurayim Rajih, Beliau merupakan Pentahsih Al Quran. Murid kepada Syaikh Hassan Habannakah dan Syaikh Hussin Khattab. Beliau antara rakan seperguruan Ulama' Besar di syiria seperti Syeikh Sa’id Ramadan al-Buti dan Syaikh Wahbah al-Zuhayli. Beliau digelari dengan Shaykh al-Qurra’ yang menjadi pakar rujukan dalam bidang Qira'ah Al Qur'an disyiria.

Sollu'alan Nabi .....

Friday, August 28, 2015

Syeikh AlButhy: Amalan Bathin Rahasia Sukses Amalan Lahir

Syeikh Said Muhammad Ramadhan alButhy
Suatu ketika, almarhum sheikhna Al Buty membesuk salah satu sahabatnya yang baru saja dioperasi, sahabatnya itu berkata, “Saya sangat menyayangkan waktu anda yang sangat berharga harus terbuang untuk membesuk saya, karena waktu anda adalah milik umat”.

Dengan senyum sheikhna Al Buty menjawab, “ Ada dua jenis amalan dalam hidup kita, amalan lahir dan amalan batin, keduanya saling membutuhan, tak terpisahkan. Semua pengajian, perkuliahan, seminar yang saya berikan, serta semua buku yang saya karang, itu adalah amalan lahir...