ASY'ARIYYAH AW MATURUDIYYAH DALAM I'TIQOD | SALAH SATU DARIPADA EMPAT MADZHAB DALAM FIQIH | BERTARIQAT DALAM TASAWUF

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Alhamdulillah dapat bershilaturrahim hadir memenuhi undangan Acara Haul Habib Munzir Al-Musawa."

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Alhamdulillah dapat bershilaturrahim hadir memenuhi undangan Acara Haul Habib Munzir Al-Musawa."

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Banyak kebaikan Habib Munzir untuk umat dan persatuan umat. Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan beliau dan menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW"

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Banyak kebaikan Habib Munzir untuk umat dan persatuan umat. Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan beliau dan menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW"

muktamar tasawuf sedunia di Chechnya.

Habib Sholeh Aljufri bersama guru mulia Alhabib Umar bin Hafidz, Mufti Mesir Syiekh Shauki dan ulama2 dari Beirut, Syiria dll

Habib Ali alJufri dan Guru Beliu, Syeikh Maliki

Habib Ali al-Jufriy: "Ketika aku mendengar orang berbicara atas nama Islam dengan bahasa yang kasar dan caci-maki, aku bersyukur kepada Allah tidak memahami Islam lewat lisan mereka."

25yyTB_kiZg

Saturday, September 5, 2015

Hanya Ada Dua Kedudukan Seorang Muslim dalam Kemampuannya Mengkaji Hukum Islam


Bahwa menurut kesepakatan umat Islam, taqlid itu sah secara syari'at (masyru'). Taqlid adalah mengikuti perkataan/pendapat seseorang tanpa mengetahui hujjah keabsahannya, meskipun ia mampu mengerti argumen mengenai sahnya taqlid itu sendiri. Seorang muqallid kadang mengetahui hujjah kebolehan bertaqlid kepada seorang ulama-mujtahid, namun ia tidak mengerti hujjah tentang keabsahan hukum yang ia ikuti.

Apakah perbuatan tersebut dinamakan taqlid atau ittiba', tidak ada bedanya. Secara bahasa, makna keduanya sama. Allah mengungkapkan bentuk terburuk dari taqlid dengan menggunakan kata "ittiba", dalam firman-Nya:

(إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ (١٦٦
 وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا ۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ الله أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ ۖ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ (١٦٧

"(yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan ketika sagala hubungan antara mereka terputus sama sekali (166), Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti : "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti Kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami". Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari apai neraka (al-baqarah; 166-167)

Tentunya, maksud dari 'mengikuti' (ittiba') di atas adalah taqlid buta yang tidak diperbolehkan.

"Kembali kepada al-Qur'an dan Sunnah"

Dr. Syeikh Muhammada Sa'id Ramadhan al-Buthi dalam bukunya yang berjudul al-Lamadzhabiyyah; Akhtharu Bid'ah Tuhaddidu asy-Syar'iyyah al-Islamiyyah atau jika diterjemahkan -Paham Anti-Madzhab: Bid'ah yang Paling Berbahaya/Serius Mengancam Syari'at Islam-, menjelaskan kerancuan pemahaman seorang yang bernama -samaran- Syeikh Muhammad Sulthan al-Ma'shumi al-Khajnadi, seorang pengajar di Masjidil Haram yang ditulis dalam buku kecil (kurras) berjudul Hal al-Muslim Mulzam bit-Tiba'i Madzhab Mu'ayyan? atau jika diterjemahkan -Apakah Seorang Muslim Wajib Mengikuti Madzhab Tertentu?- .

Friday, September 4, 2015

Pesan Imam Syahid Sheikhna wa Murabbiina Al Buty Rahimahullah kepada Para Pecintanya:

".....Bangun subuh tepat waktu setiap hari, itu kalau tidak mampu bangun beberapa saat sebelum subuh, kita mulai hari kita dengan shalat subuh berjamaah di masjid terdekat, kemudian terus berusaha berzikir dan berdoa setelah shalat, kalau tidak ada kesibukan lanjutkan hal itu sampai matahari terbit.

Thursday, September 3, 2015

Dua Kaidah untuk Memperbaiki Akhlak

Nasihat al Habib Muhammad bin Abdurrahman as-Saqqof:

Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah. Sholawat dan salam untuk Saidina Rasulillah saw, ahli keluarganya, dan semua yang bersamanya. Sepenjang pengalaman saya dalam bidang dakwah dan pergaulan dengan manusia, saya mendapati ada suatu perkara yang penting yang selalu ditanyakan oleh para remaja dan orang ramai: "Bagaimana menjadikan akhlaku indah dan mulia? Bagaimana saya dapat berakhlak dengan akhlak yang mulia?"

Perkara ini memeiliki dua kaidah yang penting. Jika manusia mampu memahami dan beramal dengannya, serta memberi perhatian kepadanya. dia akan mendapati akhlaknya akan berubah menjadi baik, sedikit demi sedikit. 

Bila Bicara Agama Tanpa Ilmu, Akhirnya Mudah Menyesatkan Amalan Saudara Muslim Lain

foto: berani berfatwa bak seorang Mufti, walau minim ilmu. 
Fenomena yang sering terjadi akhir-akhir ini adalah banyaknya penuntut ilmu yang baru mulai belajar ilmu tapi gayanya sudah seperti ahli ilmu. Karena merasa dirinya sebagai ahli ilmu, maka dia mensejajarkan dirinya satu level dengan ahli ilmu atau bahkan lebih tinggi dari ahli ilmu. Tidak heran jika dia mulai mengkritik dan menyalahkan pendapat-pendapat para ulama ahli ilmu. Tidak sekedar mengkritik, bahkan terkadang dia membid’ahkan pendapat para ahli ilmu yang tidak sama dengan pendapatnya.

Ini adalah salah satu contoh kasus yang sedang hangat dibicarakan saat ini adalah sepasang artis yang mendadak jadi Ustadz, dalam salah satu program TV, menyebutkan bahwa amalan membacakan surat Al-Fatihah untuk orang-orang yang sudah meninggal adalah bid'ah, tentunya berhujjah dengan dalil pamungkasnya "Rasulullah tidak menjalankannya".

AL-ASY'ARIYYAH adalah Aqidah al-Azhar as-Syarif dan Aqidah Mayoritas Umat Islam

عقيدة الأزهر

وردا على سؤال آخر من أحد الحضور جاء فيه: "بعض الناس يطعن في عقيدة الأزهر الشريف، فما رد فضيلتكم على هذا الكلام؟"

قال الشيخ القرضاوي بنبرة استفهام ساخرة: "عقيدة الأزهر الشريف؟!"

ورأى أن من يقول ذلك "فهو يطعن في الأشعرية"، وتابع: "ليس الأزهر وحده أشعريا.. الأمة الإسلامية أشعرية.. الأزهر أشعري والزيتونة أشعري والديوباندي (بالهند) أشعري وندوة العلماء أشعرية ومدارس باكستان أشعرية.. وكل العالم الإسلامي أشعرية".

وأشار إلى أنه حتى الأشعرية موجودة بالسعودية التي تعد مركز السلفية الوهابية، وقال: "السلفيون مجموعة صغيرة، حتى إذا قلنا السعودية فليس كل السعودية سلفيين، فالحجازيون غير النجديين غير المنطقة الشرقية غير منطقة جيزان وهكذا".

وأضاف: "فإذا أخذنا بالأغلبية، فإن أغلبية الأمة أشعرية.. هذه كلها اجتهادات في فروع العقيدة، والكل متفق على شهادة أن لا اله إلا الله وأن محمد رسول الله وعلى النبوة في الإيمان بالله وكتبه ورسله وفي اليوم الآخر".

وشدد على أن "هذه الاختلافات لا ينبغي أن نكفر بها أحدا

kurang lebih jika diterjemahkan bebas:

Salah seorang yang hadir bertanya kepada Syeikh al-Qaradhawi: “Sekelompok orang mencela aqidah Al-Azhar As-Syarif. Bagaimana tanggapan Syeikh terhadap hal itu?” Maka Sheikh Al-Qaradhawi menjawab dalam bentuk pertanyaan yang luar biasa: “Mereka mencela aqidah al-Azhary? Maksudnya mereka mencela aqidah al-Asy'ariyah?”

Wednesday, September 2, 2015

Mengenal Syeikh al-Qurra' dari Syiria

Foto: Syeikh Kurayim Rajih saat baru tiba di Malaysia, disambut muridnya Syeikh Feras Salou.
Namanya Syaikh Kurayim Rajih, Beliau merupakan Pentahsih Al Quran. Murid kepada Syaikh Hassan Habannakah dan Syaikh Hussin Khattab. Beliau antara rakan seperguruan Ulama' Besar di syiria seperti Syeikh Sa’id Ramadan al-Buti dan Syaikh Wahbah al-Zuhayli. Beliau digelari dengan Shaykh al-Qurra’ yang menjadi pakar rujukan dalam bidang Qira'ah Al Qur'an disyiria.

Sollu'alan Nabi .....