ASY'ARIYYAH AW MATURUDIYYAH DALAM I'TIQOD | SALAH SATU DARIPADA EMPAT MADZHAB DALAM FIQIH | BERTARIQAT DALAM TASAWUF

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Alhamdulillah dapat bershilaturrahim hadir memenuhi undangan Acara Haul Habib Munzir Al-Musawa."

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Alhamdulillah dapat bershilaturrahim hadir memenuhi undangan Acara Haul Habib Munzir Al-Musawa."

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Banyak kebaikan Habib Munzir untuk umat dan persatuan umat. Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan beliau dan menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW"

Haul Habib Munzir al-Musawa di Masjid at-Taubah, Kalibata, 23 Agustus 2015

Syekh Ali Jabeer: "Banyak kebaikan Habib Munzir untuk umat dan persatuan umat. Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan beliau dan menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW"

muktamar tasawuf sedunia di Chechnya.

Habib Sholeh Aljufri bersama guru mulia Alhabib Umar bin Hafidz, Mufti Mesir Syiekh Shauki dan ulama2 dari Beirut, Syiria dll

Habib Ali alJufri dan Guru Beliu, Syeikh Maliki

Habib Ali al-Jufriy: "Ketika aku mendengar orang berbicara atas nama Islam dengan bahasa yang kasar dan caci-maki, aku bersyukur kepada Allah tidak memahami Islam lewat lisan mereka."

25yyTB_kiZg

Monday, September 14, 2015

dzikir di bulan dzulhijjah

أوصى الحبيب عمر بن محمد بن حفيظ حفظه الله بهذا الذكر: ( سبحان الله، والحمد لله، ولا إله إلا الله، والله أكبر.. ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم). من ثلاثة ألف مرة إلى ثلاثين ألف مرة حسب الهمة، خلال شهر ذي الحجة ١٤٣٦ه ، وبالله التوفيق

Guru Mulia Alhabib Umar bin Hafidz berwasiat kepada para pecintanya utk membaca dzikir:

"Subhaanallaah Wal Hamdulillaah Wa Laa ilaaha illallaah waAllaahu akbar wa Laa haulaa wa Laa Quwwata illa Billaahi Alaliyyil Adziim"

Sebanyak minimal 3000 kali sampai 30 ribu bagi yg punya himmah/semangat selama bulan Dzulhijah, jadi mulai nanti malam bisa dikerjakan. Selamat menunaikan wasiat yg berharga ini. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.

Sunday, September 13, 2015

Benarkah Puasa Tanggal 9 Dzulhijjah Harus Mengacu Kepada Wuquf di Arafah?

Memang ada sebagian orang yang berpandangan bahwa ada korelasi kuat dan mengikat antara puasa tanggal 9 Dzulhijjah dengan peristiwa wuquf di Padang Arafah. Seolah-olah puasa sunnah itu harus mengacu kepada kejadian wuquf. Lalu puasa itu harus mengikuti wuqufnya. Kalau wuquf hari Rabu di Arafah, maka orang sedunia harus ikut jadwal itu dengan berpuasa pada hari Rabu. Sebaliknya bila di Arafah wuquf hari Selasa misalnya, maka umat Islam sedunia harus berpuasa di hari Selasa.

Padahal kalau kita rujuk kepada bagaimana proses pensyariatan puasa tanggal 9 Dzulhijjah dan wuquf di Arafah, sesungguhnya kita akan menemukan faktwa bahwa antara kedua jenis ibadah itu sama sekali tidak ada kaitannya. Kita tidak menemukan dalil yang mewajibkan puasa dengan cara ikut orang wuquf atau sebaliknya. Karena kedua jenis ibadah itu disyariatkan secara terpisah dan sendiri-sendiri.

Puasa sunnah pada tanggal 9 Dzulhijjah itu sudah disyariatkan jauh sebelum Nabi SAW berhaji dan melaksanakan wuquf. Puasa itu menurut banyak riwayat telah mulai disyariatkan sejak tahun kedua hijriyah. Di tahun itu ada beberapa jenis ibadah yang berbarengan disyariatkan, seperti puasa bulan Ramadhan, Shalat Idul Fithr dan Idul Adha serta puasa tanggal 9 Dzulhijjah.

Sedangkan wuquf yang dilakukan oleh Rasulullah SAW belum disyariatkan di masa itu. Sebab Nabi SAW dalam posisinya sebagai pembawa wahyu dari langit baru berhaji di tahun kesepuluh hijriyah. Ada rentang waktu kurang lebih sembilan tahun lamanya. Artinya ketika di tahun-tahun kedua, ketiga hingga kesembilan Dzulhijah, Rasulullah SAW dan para shahabat melaksanakan puasa sunnah, pada saat itu di Arafah tidak ada jamaah haji yang wuquf. Arafah saat itu kosong tidak ada ritual haji.

Kalau puasa sunnah tanggal 9 Dzulhijjah harus mengacu kepada acara ritual wuquf di Arafah, maka seharusnya Nabi SAW dan para shahabat tidak perlu berpuasa sunnah tanggal 9 Dzulhijjah.

Memang benar bahwa bangsa Arab sejak masa Nabi Ibrahim alaihissalam masih menjalankan ibadah haji. Dan salah satu ritualnya adalah wuquf di Arafah. Namun penting sekali untuk dicatat disini bahwa bangsa Arab sebelum Rasulullah SAW melaksanakan haji tidaklah berhaji di bulan Dzulhijjah. Mereka terbiasa mengubah dan mengotak-atik jadwal ritual haji tiap tahunnya. Kadang haji mereka selenggarakan di bulan Dzulqa'dah, kadang di bulan Syawwal dan seringkali di bulan-bulan lainnya.

Dan karena itulah maka Allah SWT menyalahkan bangsa Arab yang suka menggonta-ganti jadwal ibadah haji tiap tahun. Di dalam Al-Quran Allah SWT berfirman :

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُواْ يُحِلِّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِّيُوَاطِؤُواْ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللّهُ فَيُحِلُّواْ مَا حَرَّمَ اللّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. At-Taubah : 37)

Ketika menafsirkan ayat ini, Al-Imam Al-Qurtubi (w. 671 H) dalam kitab tafsirnya Al-Jami' li Ahkam Al-Quran menukilkan komentar dari mufassir besar yaitu Mujahid sebagai berikut :

كان المشركون يحجون في كل شهر عامين، فحجوا في ذي الحجة عامين، ثم حجوا في المحرم عامين، ثم حجوا في صفر عامين، وكذلك في الشهور كلها حتى وافقت حجة أبي بكر التي حجها قبل حجة الوداع ذا القعدة من السنة التاسعة. ثم حج النبي صلى الله عليه وسلم في العام المقبل حجة الوداع فوافقت ذا الحجة، فذلك قوله في خطبته: (إن الزمان قد استدار)

Orang-orang musyrik terbiasa melaksanakan haji untuk tiap bulan dua tahun dua tahun. Haji di bulan Dzulhijjah dua tahun, lalu haji di bulan Muharram dua tahun, kemudian haji di bulan Shafar dua tahun, dan begitulah seterusnya, sehingga haji yang dilakukan Abu Bakar sebleum haji Wada' jatuh pada bulan Dzul-Qa'dah di tahun kesembilan hijriyah. Tahun depannya, Nabi SAW berhaji jatuh di bulan Dzulhijjah. Disitulah beliau SAW bersabda,"Zaman telah berputar". [1]

Dari tafsir ini kita mendapat kesimpulan penting bahwa ternyata bangsa Arab jahiliyah meskipun berhaji dan wuquf di Arafah juga, namun jadwalnya bukan di bulan Dzulhijjah, dan tentunya tanggalnya pun juga bukan tanggal sembilan.

Dengan demikian, ketika kita beranggapan bahwa puasa tanggal 9 Dzulhijjah itu harus dikaitkan dengan wuquf di Arafah, sebenarnya tidak punya dasar sama sekali, karena bertentangan dengan realitas pensyariatannya di masa kenabian. Intinya adalah :
  • Puasa tanggal 9 Dzulhijjah sudah disyariatkan sejak tahun kedua setelah hijrah dan dilakukan oleh Nabi SAW beserta para shahabat setiap tahunnya.
  • Tetapi sepanjang 22 tahun selama masa kenabian, puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah tidak pernah berbarengan dengan wuquf di Arafah. Karena syariat haji baru dijalankan oleh beliau SAW dan para shahabat di tahun kesepuluh dari hijrah atau setelah 22 tahun sejak kenabian.
  • Kalau pun orang Arab jahiliyah tiap tahun menyelenggarakan haji, ternyata jadwalnya bukan pada bulan Dzulhijjah. Sehingga pada tanggal 9 Dzulhijjah itu tetap saja tidak ada acara wuquf.
  • Kalau hari ini puasa tanggal 9 Dzhulhijjah harus diseusaikan jadwalnya dengan wuquf di Arafah, berarti justru bertentangan dengan realitas puasa di masa Nabi SAW. Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA

[1] Al-Imam Al-Qurtubi, Al-Jami' li Ahkam Al-Quran jilid 8 hal. 137

Saturday, September 12, 2015

Mengenal Syeikh Usamah As-Sayyid Mahmud Muhammad Al-Azhari


Beliau adalah Al-‘Allamah Al-mahbub al-fadilatul ustaz Ad-Duktur Syeikh Usamah As-Sayyid Mahmud Muhammad Al-Azhari hafizahullahu dilahirkan di Alexandria pada hari Jum’at, 18 Rejab 1398 H yang bertepatan dengan 16 July 1976 dan dibesarkan di kota Suhaj yang terletak di hulu Sungai Nil.

Beliau menghafal Al-Qur’an dibawah bimbingan ayahandanya yang selalu mendoakan agar Allah Ta’ala berkenan menganugerahi beliau ilmu yang luas.. Pembetangan tesis PHD Dr Usamah Sayid Mahmud Al-Azhari di kuliah usuluddin wa al- dakwah University Al-Azhar di cawangan Zaqaziq.Beliau memperolehi pangkat MUMTAZ (cemerlang) dengan kepujian pangkat pertama.

Kini mengajar di Kulliyah Ushuluddin wad Da’wah Al-Islamiyah di Zaqaziq dan di taklifkan sebagai timbalan mufti mesir.. Beliau mengajar dan menyampaikan pengajian dalam berbagai ilmu keislaman seperti hadits, tafsir, usul fiqh, manthiq, nahwu, dan aqidah.

Beliau telah memperoleh ijazah ilmiyah lebih dari tiga ratus ulama pemilik sanad dari berbagai penjuru dunia Islam. Beroleh kemuliaan dengan bermulazamah serta menyertai banyak ulama besar Al-Azhar maupun para ulama besar negeri Yaman, Syam, dan Maghrib.

Al-‘Allamah Habib Ali hafizahullahu berkata, “Diantara sebab yang menarik dirinya untuk hadir munaqasyah Dr Usamah adalah kerana Dr Usamah diantara ulama muda yang ilmunya melampaui umurnya,ilmunya tentang falsafah zaman sekarang dan peranannya dalam berkhidmat kepada Al-Azhar Al-Syarif.”

Habib Umar Ibn zein pernah berkata dalam pengajiannya: “Diantara ulama yang Allah berikan ilmu pada waktu muda adalah sheikh Usamah Sayyid Al-Azhari.”

Do'a Murobbina al-Habib Umar bin Hafidz terkait Musibah di Masjidil Haram, Jum'at, 11 September 2015


بسم الله الحمن الرحيم



رحم الله شهداء الحرم المكي برحمته الواسعة، وتقبل منا ومنهم جميع الحسنات ، وتجاوز عن جميع السيئات ، وغفر لنا ولهم الزلات، وتحمل عنا وعنهم جميع التبعات.

(Semoga ALLAAH SWT menyayangi para Syuhada Haram Al Makki dg kasih sayang yg teramat luas, dan menerima dari kita dan mereka semua kebaikannya, dan menyelamatkan dari segala keburukan, dan mengampuni kita dan mereka dari kekhilafan, dan mengangkat dari kita dan mereka dari segala kesulitan)

نسأل الله أن يُنزل على قلوب أهاليهم الصبر والسكينة والطمأنينة والرضا، وأن يخلفهم فيهم بخير خلف، وأن يتكرم بتمام العافية للجرحى ومرضى المسلمين أجمعين.

(Kami memohon pada ALLAAH untuk menurunkan kepada hati2 keluarga mereka semua kesabaran dan ketenangan serta ketentraman dan kerelaan, dan mengganti untuk mereka dengan ganti yg lebih baik, dan memuliakan dg kesempurnaan kesehatan bagi yg terluka dan yg dirawat bagi seluruh kaum muslimin)

اللهم احفظ الحرمين الشريفين ومن فيهما وما فيهما، وارفع اللهم البلايا عن الأمة، واجعل هذا الموسم من أبرك المواسم علينا وعلى المسلمين، والطُف بهم، وأصلح أحوالهم، وارفع البلايا والكروب عنهم، واختم لنا بالحسنى واليقين، حتى نلقاك وأنت راضٍ عنا يا أرحم الراحمين.

(Yaa ALLAAH jagalah Al Haramain Asy Syarifain dan mereka yg ada di dalam keduanya dan apa2 yg ada di dalam keduanya, dan Angkatlah ya ALLAAH bala' bencana dari Ummat ini dan jadikan musim Hajji ini sebagai musim yg paling barakah bagi kita dan seluruh kaum muslimin, dan lembutlah kepada mereka, dan perbaiki lah urusan mereka, serta Angkatlah bencana dan kesulitan dari mereka, dan matikan kami semua dalam kebaikan dan keyakinan (Islam), sehingga kami berjumpa dg ENGKAU dalam keadaan ENGKAU Ridha kepada kami, wahai yg paling Penyayang diantara yg penyayang)

آمين يا رب...

Friday, September 11, 2015

Maulana Zakariyya Tidak Pernah Belajar Hadist Melainkan dengan Berguru

Ini adalah kisah bagaimana kesungguhan usaha Syeikh Muhammad Zakariyya al-Khandlawi agar tidak tertinggal satu patah katapun penjelasan hadist dari Gurunya. 

Diceritakan ketika memasuki tahun akhir pengajian hadist, Maulana Zakariyya r. berazam tidak akan meninggalkan sebuah hadis pun tanpa berguru. Begitu juga sahabat sekelasnya iaitu Maulana Hasan Ahmad r. Mereka juga memastikan diri agar sentiasa berwuduk. Tetapi, masalah timbul ketika sesi pembelajaran kelas berlangsung iaitu mereka terpaksa ke tandas kerana membuang air atau terbatal wuduk kerana kelas pengajian hadis memakan masa hampir empat hingga lima jam untuk sesi pagi dan tiga jam untuk sesi petang.

Pada masa itu juga mereka mungkin perlu ke tandas untuk membuang air kecil atau memperbaharui wuduk. Untuk memastikan mereka tidak ketinggalan daripada mendengar semua hadis di hadapan gurunya itu, mereka berdua membuat satu perancangan.

Kata Maulana Zakariyya r kepada sahabatnya iaitu Maulana Hasan Ahmad r, jika beliau terpaksa keluar, sahabatnya perlu ajukan soalan kepada gurunya. Sekiranya gurunya itu selesai menjawab, Maulana Zakariyya r. meminta sahabatnya ajukan soalan yang seterusnya sehinggalah beliau pulang dan masuk semula ke kelas supaya gurunya itu tidak berpindah perbincangan ke hadis yang lain. Jika sahabatnya keluar, Maulana Zakariyya r akan membuat perkara yang sama.

Suatu hari, Maulana Hasan Ahmad r terpaksa keluar kelas untuk mengambil wuduk kerana telah batal. Beliau memberi isyarat kepada Maulana Zakariyya r dengan soalannya itu sebagaimana yang mereka janjikan sebelum ini. Maulana Zakariyya r. memulakan soalannya berkenaan dengan pandangan Ibn Humam dalam kitab Fathul Qadir.

Gurunya tersenyum sambil ketawa melihat gelagat soalan seumpama itu. Mengetahui maksud Maulana Zakariyya r. dengan soalannya itu, gurunya lantas berkata kepada Maulana Zakariyya r., “Tidak mengapa, sementara kita tunggu Hasan Ahmad datang, aku akan ceritakan kepada kamu satu kisah, tidak payahlah aku bersusah payah untuk menjawab jawapan dari pertanyaan kamu ini.”

Kesimpulan kisah ini, Maulana Zakariyya r tidak akan tinggalkan satu hadis pun yang beliau pelajari dan beliau dengari di mana gurunya ketika itu ialah ayah beliau sendiri iaitu Maulana Muhammad Yahya al-Kandahlawi r.

Begitulah kesungguhan seorang ulama yang mengutamakan kehadiran dan berguru semasa menuntut ilmu. Maka tidak hairanlah dengan perlakuan sebegitu, ilmu yang dituntutnya mendapat keberkatan dan diberkati sepanjang masa.

Seawal umur 9 tahun, beliau sudah menghafal seluruh al-Quran. Ketika berumur 20 tahun, sudah menjadi Syaikhul Hadis di Madrasah Saharanpur.

Telah menghasilkan lebih 100 buah kitab dalam pelbagai cabang ilmu yang mana terdapat kitab-kitabnya yang telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa di seluruh dunia.

Sumber:
Ashraf Shahrulail, Biografi Maulana Zakariyya al-Kandahlawi: Pencinta Sunnah

Thursday, September 10, 2015

Nasihat Syeikh Dr. Yusuf Qordhowi agar Aqidah al-Asy'ariyyah terus dijaga di Malaysia

Disebutkan dalam islamonline.net di bawah tajuk:“القرضاوي يدعو ماليزيا للتمسك بشخصيتها الإسلامية” (Maksudnya: Al-Qaradhawi mengajak Malaysia agar Berpegang dengan Jati Diri/Peribadi Keislamannya) antaranya:


الدوحة- دعا العلامة الشيخ يوسف القرضاوي ماليزيا إلى المحافظة على شخصيتها الإسلامية المتمثلة في مذهبها الشافعي وعقيدتها الأشعرية للوقوف أمام أي تسلل فكري من الخارج.

Monday, September 7, 2015

Istiqomah Menuntut Ilmu

foto: al-Alamah al-Habib Abu Bakar al-Adni bin Ali al-Masyhur, Yaman.
Nasihat al-Alamah al Habib Abu Bakar al-Adni:

Diantara kunci untuk seseorang itu menuju ke syurga Allah سبحانه وتعالى adalah dengan ianya terus menuntut ilmu menghadiri majlis ilmu secara istiqomah.


Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke syurga Allah سبحانه وتعالى.

Marilah kita memanfaatkan nikmat umur dan waktu lapang yang diberikan kepada kita dengan kita melakukan perkara kebaikan,perkara-perkara yang mendatangkan keredhaan Allah سبحانه وتعالى.

Marilah kita menghadiri majlis ilmu berkumpul bersama-sama dengan para ulama dan orang-orang soleh mengambil ilmu daripada dada-dada para ulama, mengambil manfaat untuk kebaikan diri peribadi kita sendiri terutama sekalinya dan juga memberikan manfaat kepada orang lain secara umumnya.

Sesungguhnya umur ini akan berlalu dengan berlalunya zaman atau waktu yang kita lalui.Yang mana seseorang itu apabila ianya menggunakan umur dan waktunya dengan perkara-perkara yang baik,perkara-perkara yang diredhai oleh Allah سبحانه وتعالى, maka ianya akan diberikan kebaikan dan meningkatkan darjat seseorang itu di sisi Allah سبحانه وتعالى di dunia dan juga di akhirat.

Sebaliknya orang-orang yang menggunakan umur dan waktunya dengan perkara-perkara yang maksiat,perkara-perkara yang tidak berfaedah dan mengikut kepada syahwat maka sudah tentulah nanti khususnya di akhirat nanti dia akan merasakan kerugian yang begitu besar sekali yang mana ianya tidak dapat diganti lagi tidak dapat dikembalikan lagi.

Seseorang yang solat yang ianya hadir untuk mendirikan solat itu adalah merupakan hubungan seorang hamba dengan Allah manakala orang yang hadir di dalam majlis ilmu menjalin hubungan dengan Baginda Nabi ﷺ dikeranakan ia telah warid daripada hadis Baginda Nabi ﷺ yang mengatakan "Sesungguhnya Para Nabi itu tidak mewariskan dirham, dinar, wang, ataupun harta tetapi yang diwariskan adalah ilmu."

Maka barangsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bahagian yang terbaik.Hari ini kita lihat bermacam-macam keadaan yang terjadi yang berlaku kepada Ummat ini.Hal ini tidak lain adalah kerana kehilangan, kejahilan daripada ilmu.

Nabi Muhammad ﷺ sangat menggalakkan kita untuk mengambil bahagian dalam majlis seumpama ini dikeranakan majlis-majlis yang mengingatkan kepada kita khususnya ilmu-ilmu tentang berkenaan dengan syarak yang mengajarkan kepada kita pengetahuan tentang solat.

Bagaimana untuk kita menunaikan puasa,bagaimana untuk menunaikan haji,bagaimana untuk kita membayar zakat,bagaimana untuk kita menjadi orang yang beradab dan berakhlak,bagaimana untuk kita menunaikan hak-hak suami isteri dan keluarga dan sebagainya.

Sepertimana yang disabdakan oleh Baginda Nabi ﷺ "Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke Syurga."

Oleh kerana itu,barangsiapa yang ingin untuk dipermudahkan jalannya menuju ke Syurga Allah maka hadirlah majlis seperti ini kerana ianya merupakan KUNCI yang memudahkan seseorang itu menuju ke Syurga Allah سبحانه وتعالى.

Sesungguhnya majlis seumpama ini (Majlis Selawat, maulid, zikir, ilmu) mempunyai ganjaran dan juga pahala serta kurniaan yang cukup besar yang tidak boleh kita dapatkan di majlis-majlis yang lain daripada majlis seumpama ini.

Majlis seperti ini tidak syak lagi ianya membawa kepada kebaikan kerana ianya diasaskan di atas ketaqwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dan mempunyai ikatan dengan Para Solihin yang mana intinya yang telah pun dibentangkan ataupun diajarkan di majlis ini. Kitab-kitab yang dibaca semuanya adalah kitab-kitab yang dibaca oleh Para Solihin yang dikarang oleh Para Solihin. Yang mana ianya mempunyai hubungan dengan Para Solihin khususnya kitab-kitab yang dibaca sepertimana juga turut dibaca di Hadramaut dan negara-negara Islam yang lainnya.

Ini menunjukkan bahawasanya majlis seumpama ini merupakan majlis yang penuh keberkatan yang mana ianya mempunyai ikatan dengan Para Solihin. Kitab-kitabnya mengikut kitabnya mengikut kitabnya Para Solihin dan langkah juga menuju kepada jejak langkahnya Para Solihin. Yang didatangkan kepada kita dengan didapatkan daripada dada Para Ulama sehingga majlis ini adalah majlis yang istimewa yang telah pun ada hubungannya Para Solihin.

Sesungguhnya cara pengambilan ilmu, majlis ilmu ini terbahagi kepada 2 ciri yaitu:
  1. Seseorang yang hadir duduk bersama Para Masyeikh dengan Para Guru-Guru seperti majlis kita ini yang duduk dengan Guru yang belajar secara bertalaqqi dengan Guru yang mempunyai sanad keilmuannya bersambung kepada Baginda Nabi ﷺ.
  2. Seseorang yang belajar ilmu yang mengambil ilmu daripada Sekolah, Universitas dan sistem-sistem yang modern yang ada sekarang ini.
Maka manakah yang istimewa daripada 2 majlis tersebut? Maka sudah tentulah majlis-majlis sepertimana yang kita duduk sekarang ini iaitu kita duduk bertalaqqi bersama Para Masayeikh secara langsung yang mana ianya sangat jauh perbezaannya berbanding pengambilan ilmu daripada Universitas ataupun sistem-sistem moden yang ada sekarang ini yang walaupun di sekolah-sekolah di universitas sekarang ini turut mengajarkan daripada ilmu syariah.

Akan tetapi ianya tidak dapat sama sepertimana duduk mengambil ilmu secara langsung. Walaupun Guru yang mengajar di majlis-majlis yang kita hadir seperti ini tidak mempunyai sijil-sijil sepertimana pensyarah-pensyarah dan sebagainya tetapi ilmu itu diambil daripada Para Masayeikh yang ilmunya barokah yang bersanad sehingga ianya mendatangkan keberkatan kepada orang yang hadir,orang yang mengajar, orang yang belajar sehingga keberkatan majlis itu mengalir kepada orang yang melintasi kepada majlis ini ataupun mungkin ada yang hadir bukan hadir untuk menuntut ilmu tapi disebabkan boring nak isi masa lapangnya,tak tahu buat apa-apa maka mereka juga pun turut mendapatkan keberkatan.

Sepertimana hadis Baginda Rasulullah ﷺ "Mereka adalah kelompok yang tidak akan celaka orang yang duduk di dalamnya (majlis ilmu) "Kelompok yang dimaksudkan di sini adalah mereka yang mendapatkan as-sakinah(ketenangan). Apa itu sakinah? Ramai di antara kita yang tak faham apa maksud as-sakinah yakni ketenangan itu.

Maksud as-sakinah iaitu yang ianya hadir bersamanya Malaikat. Yang mana bukan dimaksudkan Malaikat yang hadir itu Malaikat yang mencatat kepada amalan kita kiri dan kanan kita tetapi yang dimaksudkan dengan Malaikat yang hadir di majlis ini adalah Malaikat yang khusus yang diutuskan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk "mereka" itu mencari di atas muka bumi ini untuk mencari bau wangi majlis-majlis yang harum seperti ini maka mereka yakni Para Malaikat akan bersama-sama hadir duduk bersama manusia yang hadir di majlis tersebut dan mendoakan mereka.

Yang memang kita sendiri tidak dapat melihatnya tapi kita mengimaninya turut hadir bersama dengan kita ini. Dan bagi mereka yakni orang-orang khusyuk,orang-orang betul-betul menghayati kepada majlis seumpama ini maka merekalah yang akhirnya yang dapat merasai as-sakinah kehadiran Para Malaikat dan juga ketenangan yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى.

Orang-orang yang betul-betul hadir dengan hatinya dengan jiwanya dengan akal fikirannya yang mana mereka itu akan mendapatkan as-sakinah yang sebenarnya iaitu apabila seseorang itu mendapatkan cahaya ilmu dan juga daripada as-sakinah dan mereka itu apabila disebutkan ayat-ayat Allah maka bergetarlah jiwa dan hati mereka itu mengalirlah airmata mereka itu.

Oleh kerana itu saya (Al-Habib Abu Bakar ) menyeru kepada semua orang baik itu di kalangan orang-orang muda lelaki mahupun yang perempuan dan juga kepada mereka yang sudah tua sekalipun.Janganlah sampai kalian terluput ataupun kehilangan untuk hadir majlis seumpama ini kerana majlis seperti ini mempunyai rahsia Allah yang mengingatkan kita yang membuatkan kita bermuhasabah diri yang mana ianya membawa kepada kebaikan.

Walaupun kamu hanya mampu untuk hadir 1 kali seminggu saja tetapi hendaklah kamu hadir secara istiqomah dan juga dengan niat yang betul maka kamu juga pasti akan mendapatkan manfaat yang besar.Dan alangkah baiknya sekiranya kamu mampu untuk hadir secara berterusan setiap hari itu adalah lebih baik bagi diri kamu.

Akan tetapi sebaliknya janganlah sampai kita langsung terus tidak hadir ke majlis ilmu yang walaupun mungkin ada di antara kita yang hadir ini hanya sekadar hadir dan mendengar saja tetapi tidak membawa pen dan buku untuk menulis maka baginya juga tetap mendapatkan manfaat tetapi orang-orang yang ianya betul-betul bersungguh-sungguh yang mana ianya mencatit apa yang didengarnya dan selepas itu ianya mengulangkaji dengan apa yang dia dapatkan itu diamalkannya pula dan disebarkan kepada orang lain maka mereka itu adalah orang yang beruntung mendapatkan manfaat yang begitu besar.